RUMPUT, mungkin iri pada mewahnya kehidupan sang anggrek. Tanpa tau bahwa ANGGREK pun, iri pada tegarnya sang rumput.

BUNGA BANGKAI, mungkin iri pada harumnya sang mawar. Tanpa tau bahwa MAWAR pun, iri pada usianya sang bunga bangkai, tak perlu takut dipetik setiap hari.

Aku punya perspektif yang kacau balau.
Aku bisa melihat sisi terang dari gelapnya hidup yang orang punya.
TAPI, aku selalu melihat sisi gelap dari terangnya kehidupan yang aku punya.

Aku tau,
Ini kekanak-kanakan.
Ini egois.
Dan aku akui, aku masih sangat labil untuk dibilang dewasa

Tapi selama ini aku selalu berkata:
Ini prosesku. Selalu ada proses untuk sebuah pencapaian.
Dan aku tak perlu malu dengan proses yang aku lalui,
karena aku berusaha.
mungkin sedikit memaksa namun aku benar berusaha

TAPI SAAT INI AKU MULAI MERASA MALU, dan BODOH.

Aku ingin cepat dewasa, makanya aku belajar untuk tidak menangis,
aku belajar untuk tersenyum dan tertawa,
aku belajar untuk menerima walau memaksa,
Aku hanya ingin dewasa, supaya aku bisa mengerti dengan pola fikir mereka.
Dan aku bisa, aku berhasil.

Namun tau apa yang paling memalukan?
Otakku mungkin terbiasa, hatiku tak pernah terbiasa!
tak ikut dewasa untuk mengerti,
tak ikut dewasa untuk memahami,
dan aku larut dalam kesedihan dan perasaan malu,
malu pada hatiku yang tak kunjung dewasa.

HARUS BAGAIMANA?
Aku mengerti maksud dari umpatan kasar sekalipun,
bahwa terselip sayang, khawatir dan rindu,
terkadang sedikit ego, tangis dan sedih,
terkadang takut, sesal dan marah,
tapi mereka peduli dan sayang.
Hanya saja mereka tak mengerti bahwa aku belum bisa menerima perlakuan apa saja dan memahaminya.
SEE? baru saja aku protes.

Ya, aku protes karena mereka tak mengerti.

Dari kecil aku terus mengejar dewasa,
terobsesi hingga aku hanya mau dilingkungan mereka yang menurutku dewasa,
NAMUN pada akhirnya hatiku tak ikut dewasa.

Aku ingin bilang:
“Aku hanya manusia biasa, mungkin wajar bila aku punya ego”
Tapi bukankah ini berarti aku hanya membela diri?

Disaat aku lunglai lemah oleh semua,
yang menguatkan aku adalah fikiranku,
dan disaat seharusnya hati kecilku memberi  secercah harapan dan asa,
ia malah memberontak hingga dadaku sakit.
Menjelaskan kenapa aku menangis, disaat otakku bertanya: “apa yang kamu tangisi?”

Aku belum bisa dewasa, dan aku kecewa untuk itu.

Advertisements