Aku ingin melewatkan saat-saat tumbuhnya kuntum bunga,
Aku ingin langsung melihatnya mekar dengan anggung dan indah,
berbahagia dalam alunan  kecantikan semesta.

Lantas aku sadar, tanpa kuntum, tanpa alunan detik penantian,
mungkin aku tak pernah sadar betapa nikmatnya keindahan bunga yang tengah mekar.

Mungkin lebih bijaksana bila aku berhenti memimpikan hal-hal ini,
“bahwa seandainya aku bisa melawan hukum alam yang telah di ukir oleh sang ilahi.”
“bahwa aku punya kuasa untuk menghapus dan menciptakan memori”

Aku harusnya tak pernah lupa,
mungkin aku punya sejuta angan dan rencana,
Namun meski impian itu sudah ditelapak tangan,
meski yang harus kulakukan hanyalah menggenggamnya,
bisa saja aku kehilangan kuasa akan tangan ini.

Mungkinkah aku terlalu sombong dalam iman?

Aku hidup dalam kepercayaan dan keanggunan yang tak tertandingi.
Meski berlumuran lumpurpun, aku tak pernah kehilangan kilauku.
BENAR! Aku bukanlah sicantik atau sang putri, bukan pula sijenius dengan sejuta maha karya.
Aku mungkin bukan gadis kaya.

Tapi aku punya apa yang tak kau punya.
Kepercayaanku pada kata.

Saat aku berucap meski tak mungkin, kau akan melihat aku mendapatkannya.

Tapi aku selalu tak sabar, aku ingin langsung mekar.
Aku benci harus menjadi kuntum, lalu menunggu lama, malu-malu kembangkan kelopak.
Aku mau ketegasan.

Bunga, ada untuk mekar.
Maka tak perlu kuntum, tak perlu menunggu, langsung saja mekar!

Ya! Inilah ego ku.

Aku benci menunggu saat-saat menggenggam mimpi,
karena aku tau pasti, impian itu sudah ada ditanganku.
impian itu milikku dihari aku mengikrarkannya.
Sudah kubilang aku punya kekuatan dalam kata.
Dengarkanlah aku.
Dan pastikan engkau jadi saksi keajaiban ini!

Dan aku punya pesan untukmu yang sibuk bermekaran.
Kau! ya! Kau! Kau  begitu indah layaknya sekuntum anggrek.
Tapi kau lupa. Setiap bunga pasti kan layu.
Lalu kenapa sibuk bermanja dirumah kaca?
Hidupmu rentan dan singkat. Apa artinya?
No offense, ya, aku sendiri masih manja layaknya anggrek.
Aku butuh dirawat, dan tak berani hidup liar.
Kita sama!

Mungkin kita perlu sedikit belajar dari rumput liar?

Karena mereka lebih tangguh, untuk tetap hidup meski diinjak-injak.

PS: untuk mawar, aku iri pada durimu. Bisakah aku memilikinya? sekedar untuk melindungi diri dari ajal?

Advertisements