1. Aku ga yakin judulnya cocok ama cerita yang bakal aku sampein
  2. Whatever, yang penting cerita. ENJOY!

HAVE U EVER FEEL OF WILLING SO MUCH TO RUN AWAY? TO ANOTHER PLACE THAT U SURE WOULD BE MUCH BETTER FROM WHERE U LIVING RIGHT NOW? I RUN AWAY FROM THE FACT OF NOT FEELING COMFORTABLE EVERY NIGHT IN MY DREAM. AND SOMEHOW FEEL NOSTALGIC TO DREAM IT AGAIN. *chuckle.

Alkisah, hiduplah seorang putri yang merindukan kedua orang tuanya nun jauh disana. Meski ia tinggal di Istana, dikelilingi oleh banyak orang, tak sedetikpun ia merasa aman dan hangat. Karena ia terbiasa hanya bersama orang tuanya. Namun apa daya? Pulau yang mereka tinggali jauh dari istana sang putri.

Maka tiap malam, sang putri tidur merindu. Membisikkan mentari cepatlah terbit, berharap cemas semoga raja dan ratu segera kembali. Hingga besok saat ia terjaga ayahanda dan ibunda sudah ada disisinya sambil tersenyum hangat. Malam menangis, angin menjerit, sedih akan pengharapan sang putri, memohon sang dewa membiarkannya tertidur pulas.

Lantas apa yang terjadi? Sang putri tertidur lelap dan mulai bermimpi. Berada ditanah asing entah dimana. Mencari-cari alamat pulau tempat tinggalnya sang ratu  dan raja. Ia berlari, bertanya kesana kemari hingga akhirnya tersesat dan kelelahan. Terduduk sedih dan meratapi nasib diri. “Aduhai.. ini bahkan lebih buruk dari istana. Tiada aku mengenal sesiapa. Tiada aku tau arah melangkah”. Sang putri terus menangis hingga seorang gadis remaja bertanya dan menuntunnya kesuatu tempat. Sebuah puri kecil dibalik tangga tak berujung. Ditinggalkannyalah sang putri disana sambil berkata: “Bisakah engkau lihat lubang kecil disana? Masuklah dan bermimpilah, berdoalah dan berharap lah, niscaya sampai engkau ke pulau impianmu”.

Sang putri bingung dan tak percaya, ragu-ragu akhirnya mencoba. Dimasukkannyalah kakinya kelubang kecil itu, tak berujung. Penasaran, teruslah didorongnya tubuhnya kedalam, gelap gulita. Yang terlihat hanyalah seberkas cahaya dari lubang lain disebelah sana. Sebuah dunia impian yang ia impikan, bernama PENANG, dengan sambutan senyum dan pelukan hangat ayahanda dan ibunda terkasih.

Aduhai, setiap mimpi itu datang, bahagialah diri ini tidak terkira. Tersenyum tenang hingga aku bisa bersabar dikeesokan harinya. Ya, aku hidup, terus hidup berkat mimpi ini. Hingga kini, kendati aku merasa biasa saja. Dimalam hari jiwaku merindu, memanggil “mama” “papa”. Dan terkadang sambil berkata: “Ampuni aku bila waktu kita tak sama, ampuni aku bila aku tak sempat membalas jasa”..

Advertisements