Berhubung tulisan akhir tahun, agak panjang boleh ya?

Hai masa lalu! Apa kabar?

Ahaha, sepertinya aku benar-benar bergantung padamu hingga detik ini. Tiap saat aku merindu, ingin sembuh dari luka ini. Tapi meski sembuh, kenapa tak kunjung hilang bekasnya? Bahkan saat ini aku masih menghela nafas panjang. Aku mengeluh, dadaku sesak saat mengingatmu.

Hai masa lalu, tau kah kamu? Setiap sepi aku menyendiri, berusaha mengingat hari-hari nan telah berlalu pergi. Namun, tak bisa ku ingat.. Namun, tak bisa ku kenang. Lantas tadi malam aku menyerah dan bertanya, dimana bayangan suara tawaku sewaktu belia? Tak kulihat, bahkan samar pun, kilasan tawa itu tak ada.. Kenapa aku ingat betapa pilunya suara tangis, saat aku tak tau alasan tangisan ini? Konyol bukan? Bahwa aku masih menangis sendu saat aku tak mengerti alasan air mata ini. Konyol bukan? Saat aku merasa sangat ingin menangis tanpa tau alasan tangisan ini. Tak terbayang sekalipun aku akan mekar begini. Kenapa harus dalam hujan aku mekar? Bukankah aku tak bersahabat dengan hujan?

Bukankah aku selalu melangkah dengan angkuh di bawah rintiknya. Ku bilang aku tak takut dengannya. Padahal aku takut dengan kilat cahayanya, atau erang tangisannya. Kenapa aku harus mekar dibawah rintik hujan? Haruskah kelopak yang malu-malu aku kembangkan basah oleh rintihan langit?

Mungkin sudah saatnya aku berhenti bertanya dan menunggu keadilan. Hidup ini tidak adil. Karena hidup memang tak pernah adil. Maka selama aku hidup, aku harus berhenti meminta keadilan. Hei masa lalu, aku lelaah mengintip celah itu. Kalau memang aku tak seharusnya melihatmu, maka tutuplah celah itu selamanya. Kunci rapat pintu itu selamanya. Aku tak mau binasa.

Hei masa lalu. Ya, aku menangisimu. Izinkanlah ini jadi tangisan terakhirku. Maka saat besok aku membuka mata. Hadiahkanlah senyum dibibirku, disaat aku melihatmu.

Hei masa lalu. Meski sakit, aku mencintaimu.

Hei impian! Apa kabar?

Lama sudah engkau aku tinggalkan. Aku takut melihat punggungmu. Aku takut melihat jejakmu. Aku takut mencium aromamu. Namun aku lelah ketakutan. Hei impian, tidakkah kau rindu padaku?

Aku tau, kau asing denganku. Wajar saja kau tak merindukanku.
Aku tau, kau marah aku tinggalkan. Wajar saja kau tak menyapaku.
Dan aku mengerti, aku salah menganggapmu tak ada.
Maafkan aku?

Tapi lihatlah, meski berat pundakku memikulmu, aku mau membawamu ikut dihidupku. Sudikah engkau kembali padaku?

Aku masih terlalu muda saat aku meninggalkanmu. Maaf, aku terlalu bodoh. Seharusnya aku segera kembali mengejarmu, sebelum aku jauh kau tinggalkan. Namun siapa sangka? Mengingatmu saja aku takut. Aku takut menangis mengingatmu. Nyatanya aku menangis dan selalu mengingatmu, konyol bukan?

Aku tau kau sengaja duduk disana, diam dengan sabar menunggu aku menyapa. Jangankan menyapa, tersenyum saja aku enggan. Maaf ya?

Aku banyak berfikir akhir-akhir ini. Bolehkah aku hidup untuk aku? Berat duhai impian.. Berat untuk membawamu saat aku sibuk memikul tugas. Lantas aku bertanya, sampai kapan aku akan meninggalkanmu? Aku takkan meninggalkan tugasku meski aku berhenti bernafas. Betapa kasihan aku bila tak lagi memiliki engkau disisiku.

Maka aku berdoa. Tuhaan, bawalah impian bersamaku. Berat tuhan, beraat sekali. Sungguh aku ingin lari. Namun tuhan, kasihanilah aku. Aku mencintai impian tuhan.. Aku ingin hidup dengannya.. Kuatkanlah aku tuhan.

Hei impian, maukah kau kembali kepadaku? Mungkin aku akan lari ditengah jalan, tapi saat itu maukah kau memegang tanganku? Karena impian, meski aku lari darimu, aku masih mencintaimu.

Duhai percaya, kau masih disana?

Masih hidupkah engkau disudut hatiku? Masih bercahayakah engkau disana? Percaya, aku masih mencintaimu. Meski takut aku akui keberadaanmu. Bukankah aku berhak untuk kau puji?

Hei.. Benar, pintu rumahmu masih terlalu berat untuk ku buka. Namun sesekali pasti ku buka. Kau tak marah kan? Jangan marah saat aku jarang singgah. Aku hanya tak terbiasa dirumahmu. Aku terbiasa bersahabat dengan curiga, maka saat aku disisimu aku merasa asing. Jangan usir aku ya?

Duhai percaya, inginku juga lalui hari bersamamu. Tapi hidup ini kejam, kita sama-sama tau kan? Maka mau kah engkau berbelas kasih padaku? Meski sesekali, saat aku datang,  maukah kau membukakan pintumu untukku? Karena jujur aku masih takut mengetuk pintu rumahmu.

Percaya, jangan tinggalkan aku..

Wahai cinta, masih bernyawakah?

Ehm, aku paling kejam padamu. Ya, berkali-kali aku mencoba membunuhmu. Aku bahkan tak layak meminta maaf padamu. Cinta, masih bernyawakah?

Cinta, masalahnya kau lah yang pertama mengkhianatiku. Bagaimana bisa kau menusukku begitu? Semua bermula darimu. Ku kurung masa lalu, ku hapus impian dari benakku, ku tinggalkan percaya, semua karenamu. Masihkah aku terlalu berdosa karena ingin membunuhmu?

Cinta, kau angkat aku, lantas kau hempas lagi. Aku remuk, aku hancur karenamu. Meski ku obati, luka, memar, tulang ini patah berkali-kali, jiwa ini mati berkali-kali. Masihkah aku terlalu berdosa karena membencimu.

Cinta.. Aku rindu belaianmu. Tapi cinta, kenapa kau khianati aku? Kau bilang dia keluarga, kau bilang dia sahabat, kau bilang di belahan jiwaku. Cinta, mereka hanya manusia biasa. Yang bisa hidup tanpa aku. Keluarga? Kau tau cinta? Karena kata keluarga aku mencintai, namun kenapa kau khianati aku cinta? Bagaimana aku bisa bersahabat denganmu?

Berkali-kali ku coba bangkit, hingga akhirnya aku mati rasa.

Benar cinta, aku takut padamu. Meski kini kuakui aku mencintai mama, papa, kedua adikku, aku tak yakin bisa mencintai selain mereka. Cinta kalau memang kau merasa bersalah menjadikan aku boneka, kalau memang kau merasa bersalah menjadikan aku dewasa disaat muda, maka bantu aku. Bantu aku untuk lupa akan pengkhianatanmu. Minta maaf lah padaku. Lantas aku akan berjabat tangan denganmu.

Cinta, aku hanya ingin engkau meminta maaf padaku. Minta maaflah padaku, karena engkau telah menghancurkan duniaku disaat aku bahkan belum tau arti hidup.

Cinta, minta maaflah padaku, karena engkau telah membunuhku disaat aku tak berdaya, sendiri, dan terlalu muda.

————————————————————————————————-

Ahaha, dadaku sesak! Kalian, kemarilah berkumpul denganku. Ya, engkau juga cinta *meski kau belum meminta maaf padaku*. Besok aku ingin berdiri lagi. Besok aku ingin menari dan tersenyum. Cukuplah aku menangis hari ini. Aku lelah menangis sepanjang tahun. Dan aku ingin kalian ada disisiku saat besok aku menyendiri. Aku ingin kalian memapahku saat aku kesulitan berjalan. Bantu aku berdiri disaat aku jatuh. Pegang tanganku saat aku ingin lari. Karena perubahan itu menakutkan, aku tak berani lalui esok tanpa kalian. Aku akan berubah menjadi lebih baik.

Dan percayalah, meski saat aku berteriak aku membenci kalian, jauh di lubuk hati ini aku masih mencintai kalian. Sangat mencintai hingga terasa sakit dan berat.

Goodbye 2011, goodbye gloomy me.
Hello 2012, hello better me.

Advertisements