Terima kasih.

Aku tak punya kata untuk melukiskan betapa bahagianya aku akan kehadiranmu dalam hidupku. Hanya bisa berterima kasih.

Teruntuk gadis kecil yang pernah menamai boneka yang kamu benci dengan namaku, teruntuk gadis kecil yang pernah menamai seekor ayam dengan namaku, teruntuk seorang gadis yang pernah menjadikan aku tokoh antagonis dalam cerita-ceritamu, teruntuk seorang gadis yang pernah merobek akta mu karena kesalahan ketik namamu menjadi namaku, teruntuk seorang gadis yang sibuk mendongeng tentang betapa jeleknya aku dan tingkahku, Terima kasihTerima kasih telah datang dalam kehidupanku.

Aku sama sekali tak layak untuk kau benci. Aku tak punya apapun untuk membuat seorang kamu iri padaku. Meski mungkin (haha) aku pernah terlihat sedikit lebih pintar darimu, aku tak punya kualitas lain yang pantas untuk membuatmu iri padaku. Jadi aku berterima kasih, Terima kasih karena telah bersedia untuk membenci aku yang tak layak untuk kau benci.

Sejujurnya, melewati kehidupan berdampingan dengan kamu membuat aku sadar betapa beruntungnya aku. Aku melihat kembali masa yang aku hapus, aku mengingat kembali hal yang aku lupakan. Karena aku terlalu sibuk, aku bahkan tak sadar bahwa ada hal-hal bahagia yang pernah aku alami dahulu, dan kamu mengingatkan aku akan semunya.

Mungkin bagimu kamu hanya berceloteh ringan tentang kenangan masa lalu. Namun bagiku, aku layaknya melihat kembali buku yang pernah aku buang. Bagiku aku layaknya membuka kembali buku tersebut, membaca paragraf yang aku lewatkan, memperhatikan kata-kata yang ku anggap tak penting.

Dan kini aku tak bisa berhenti tersenyum bahagia mengingat betapa beruntungnya aku karena kamu telah hadir dalam sejarah hidupku..

Aku tak pernah meminta untuk dimengerti, tapi aku dimengerti olehmu. Dan aku tak pernah meminta untuk diingat, namun aku diingat olehmu. Aku yang sibuk bersedih karena merasa tak terlihat, ternyata dilihat olehmu. Aku yang bukanlah siapa-siapa hingga dipandang rendah, ternyata membuat iri seorang kamu. Aku yang sibuk menyiksa dan menghina diri, ternyata dipuji olehmu meski dalam ocehan kesalmu. Terbayangkah olehmu betapa aku sangat ingin memelukmu saat ini? Ahaha, sejenak aku ingin kembali ke masa lalu dan muncul dihadapanmu. Aku ingin mencubit pipimu saat kau sibuk mendongeng tentang betapa jeleknya aku lantas mengusap kepalamu. Kemudian aku akan berterima kasih dan meninggalkanmu yang kebingungan sendiri. Ahaha.

Cincah,

Terima kasih.

Izinkan aku membuka rahasia kecil yang tak pernah ku ceritakan padamu.

Bagiku, mengakui seseorang menjadi sahabatku, adalah hal yang teramat susah dan menakutkan. Entah kenapa, menjadi sahabatmu tak pernah susah, menjadi sahabatmu tak pernah menakutkan. Disaat aku gundah, aku tak berani bercerita kepadamu, karena aku yakin kamu akan ikut bersedih saat mendengar kisahku. Aku tak ingin melihatmu bersedih, namun aku cukup bahagia membayangkan bahwa ada seseorang yang akan ikut menangis andai aku menangis. Aku tak berani membagi lukaku padamu, karena aku tau bila luka ini cukup sakit hingga membuatku menangis, luka ini terlalu parah hingga mungkin akan membuatmu khawatir.

Disaat aku sangat berbahagia menyadari betapa aku bersyukur memiliki kamu sebagai sahabatku, ku rangkai kata penuh cinta, namun tak pernah kuperlihatkan padamu karena kata-kata ini mungkin akan terlalu berat bagimu.

Disaat aku membayangkan saat dimana aku berterima kasih karena kamu telah memilih berjalan berdampingan denganku dan merekam ucapan syukurku, aku tak berani membiarkan kamu mendengarkan lantunan bahagia itu. Karena aku sadar kata-kata ini mungkin terlalu berat bagimu.

Karena aku sadar betapa setiap kataku cukup dalam untuk membuatmu terharu. Karena aku lantas takut menyeretmu terlalu dalam dalam kisah hidupku. Maka aku tak berani membiarkanmu membaca atau mendengarkan kata-kata ini.

Disaat aku mendengar kisahmu aku berbahagia karena aku dipercaya olehmu.

Disaat engkau menangis dan membiarkan aku mendengarkanmu aku bahagia karena kamu mengakui keberadaanku.

Bahkan saat kamu berceloteh kesal pun aku bahagia mendengar celotehan kesalmu.

Pun seandainya nanti kita bertengkar hebat, kamu terlalu berharga hingga tak mungkin kuhapus dan kutinggalkan begitu saja.

Aku begini bahagia akan kehadiranmu.

Dan sejujurnya, aku sedikit malu.

Aku layaknya menulis surat cinta kepadamu, kepada seorang gadis. Haha. Aku bahkan belum pernah menulis surat cinta kepada seorang pria. (tertawa).

Karena aku terlalu malu untuk mengukir betapa aku sangat menyayangi kamu, maka aku akan berhenti disini. Dan aku tak akan melakukan hal konyol seperti ini lagi. Haha. Aku hanya terlalu bahagia saat ini, semoga kamu mengizinkan aku untuk menulis kata-kata yang mungkin sedikit berat untuk dihilangkan dari memori.

Cincah,

aku sayang kamu.

my love is clumsy and odd, but this odd and clumsy love is for you. Thank you for being born and come to my life.. I love you.

🙂

Advertisements