Hujan

Tinggal di kota hujan, tak mampu membuatku jatuh cinta akan buliran air ini meski sering berjumpa. Entah mengapa sebuah payung terasa sangat berat untuk ku ajak berjalan. Jadi walau hujan, aku akan tetap berjalan tanpa peduli akan sapaan ramahnya. Bahkan saat hujan, sahabatku akan tersenyum membayangkan aku yg dengan santai berjalan dibawah langit yang sedang murka. Berpasang mata akan memandang heran, takjub menganggapku gila. “Coba lihat, dia bahkan tak berniat untuk mencoba berlari. Di tengah hujan lebat begini, apa salahnya berteduh dahulu?“. Aku hanya ingin pulang. Bahkan bukan kamu, hujan, bukan kamu yang mampu memintaku untuk berhenti sebentar.

Jika sedang di kelas, aku akan terbangun dari lamunanku saat mendengar tetesan riangnya. Bau Hujan, gumamku. Aku lantas mengernyitkan dahi, kesal dengan rasa sesak yang tiba-tiba datang menyeruak. Selalu begini, saat hujan aku merasa sendu. Ada rasa ingin untuk berlari kesana, lantas menangis sambil membiarkan hujan dengan lembut mengusap tetesan air mataku. Ku kuatkan diri untuk menutup jendela. Fitri, ini hanya sugesti.

Saat kelas telah selesai aku akan memandang langit kembali. Aku suka dengan lembutnya langit setelah berduka. Namun jika ia masih menangis, aku akan berjalan seperti biasa. Meninggalkan kawanan yang enggan basah oleh air mata sang langit, aku berjalan kembali. Hei kawan, lihatlah, aku basah oleh air matamu. Berhentilah menangis. Ah, tapi aku sudah kuyup begini. Hmm.. menangislah sesukamu, aku akan menemanimu seperti biasa.

Kemudian ketika aku sampai di kamarku, setelah mengganti pakaian aku duduk di depan pintu. Aku lupa untuk sekedar menghangatkan tubuh. Tangan dan kakiku tak bisa ku tahan untuk tak menyentuh sisa-sisa tangisan hari. Bukankah aku tak suka hujan? Ah, aku hanya tak suka akan memori kabur yang suka memanggil rasa sedih. Mungkin aku tak benci hujan.

 

Malam

Aku tak pernah bisa mengerti hangatnya gelap. Meski hidup di hitam dan putih, aku hanya tau betapa aku takut ditelan hitam. Tapi Aku suka berbaring saat langit tak lagi gundah. Menatap bintang yang berkerlip senang. Dan bulan, yang tak seriang matahari, namun selalu melihatku lembut. Aku suka akan alunan nada nyanyian jangkrik dan katak. Tapi hanya sejenak, hanya sejenak aku mampu berdiri di luar sana. Ada suara yang mengingatkanku untuk jangan tertipu oleh fatamorgana ini. Ada harga di balik sunyinya malam, ada harga di balik lembutnya sinar sang bulan. Maka aku akan bergegas kembali ke kamarku, menyalakan lampu kemudian menghela nafas lega. Sudah ku duga, aku memang lebih aman di tempat yang terang begini..

 

Hujan tadi Malam

Aku turun ke bawah, keluar dari sangkarku sejenak saja. Ada lamunan nakal yang membuatku takut, akan sosok gadis cantik yang tak mau beranjak pergi dari sisiku. Ia tak nyata, namun tak bisa kuhilangkan dari kepalaku.

Tadi sore sibuk membaca artikel tentang depresi. Bukan untuk memastikan apakah aku tergolong mereka, hanya ingin memastikan bahwa aku tak sakit separah ini. Namun meski aku menidakkan semua isyarat yang di ukir oleh hatiku, aku tak bisa membohongi diri ketika tubuhku pun berkata bahwa ia mulai gila. Tak mau makan, lalu terkadang binge. Tak punya energi saat bangun tidur dan lelah seharian. Terkadang kedinginan. Lalu punggung, pundak dan kepalaku sakit tiap harinya. Ah, bukankah aku hanya sedih…?

Dadaku mulai sesak dan air mataku tak mampu lagi kutahan. Sembari menahan rasa pusing aku berbaring, membiarkan rasa sesak ini menghilang sambil menutup mata menahan tangis. Saat itu, aku tiba-tiba melihat seorang gadis cantik yang menghantui mimpiku. Ia dengan bola mata besarnya memandangku, menatapku dan berbaring tepat di depanku. Segera ku buka mata, mengusir rasa takut. Dia datang lagi. Pergi!! Aku tak mau ditemani olehmu!

Bergegas keluar dari kamar, aku mencari matahari tuk hilangkan gundah. Namun rasa sesak tadi kembali menyapa. Aku benar-benar tak bisa bernafas. Suara itu berbisik kembali, aku berusaha tak mendengarkannya namun aku tak bisa. Jadi aku berjalan ke kamar mandi, mengorek-ngorek kerongkonganku dan merusaknya. Kemudian aku tertawa sinis. Ia, sesak itu menghilang, berganti dengan rasa sakit diperut dan kerongkonganku. Sedikit lemas aku kembali ke kamar, berbaring berharap untuk tertidur.

Kemudian malam mulai menyapa, disertai dengan hujan dan dinginnya. Telfonku berdering bertanya: bagaimana dengan malam ini? Mungkinkah kita saling bercerita?. Aku ragu, tapi ku jawab jua.

Lagi, aku teringat akan rasa sakit ini. Lalu aku mulai mengutuk hujan dan malam. Aku benci akan dingin dan gelap. Ku paksakan tidur disisi kananku, namun gadis itu datang lagi dan berbaring tepat disampingku. Ini gila. Aku takut. Aku turun kebawah dan menatap jam dinding sekilas. 21:30, hmm.. sebagaian besar keluargaku sudah terlelap. Maka dengan ringan aku melangkah keluar, menyapa papa yang sedang merokok sambil duduk di warung kami.

Ku sembunyikan tanganku dibalik jaket, lantas mendekat ke pintu pagar untuk merasakan rintik hujan. Setetes menyapa wajahku, membuatku berpaling dan menatap jalan. Jalan itu sepi, bahkan seorang pria hilang ditelan oleh gelapnya. Aku kemudian menatap kebawah, menyadari aku berdiri tepat diluar garis pintu pagar. Dari sini, rumah ini terlihat aman dan hangat, sejak kapan aku takut untuk tinggal di dalamnya? Aku mulai berfikir keras, bagaimana jika aku mundur selangkah saja? Aku cuma perlu mundur selangkah saja dan lari mengejar gelap. Jika nani papa memanggilku pulang, aku hanya perlu menutup telinga. Selangkah saja, mundur selangkah saja. Aku berfikir keras beberapa menit.

Fitri, masuklah. Jangan berdiri disana. Bukankah kamu sedang sakit?“. Kalimat penuh khawatir itu membangunkan aku. Entah keberanian untuk melalui hari memikul sakit, entah rasa takut akan ganasnya malam, aku mengambil selangkah maju. Lalu tangisan yang mulai mereda kembali bernyanyi. Aku bergegas masuk menyembunyikan tangisanku. Namun aku tak segera ke kamar, aku mengintip wajah mama yang sedang tertidur. Aku rindu. Sebentar saja, aku kembali berjalan. Menangis sambil berbicara pada hamster peliharaan adikku. Ini konyol, aku harus berhenti.

Aku berdiri dan berjalan kembali, kemudian berhenti lalu duduk di dekat sejadah yang biasa digunakan mama. Aku tak bisa lagi menahan air mataku. Sambil membungkukkan badan aku berbisik lirih, maaf ma, Fitri cuma ingin mama bahagia.. Maaf ma, andai Allah memberi kesempatan untuk memilihi, fitri tak mengapa tak merasakan hidup di dunia, asalkan mama bahagia. Tak mengapa fitri tiada asalkan mama bahagia. Jadi maaf ma, maaf karena fitri ada. Fitri kenapa? Sakit?“, papa tiba-tiba muncul di dekatku. Aku panik menghapus sisa air mata. “Cuma ngantuk pa..”, lalu berlari menaiki tangga menuju kamarku.

Seperti biasa, malam itu aku tak bisa memejamkan mata. Aku ingin lari namun tak tau kemana

Hujan, ajaklah aku kesisimu. Lalu sama-sama menghilang saat engkau mulai reda.

Malam, bawalah aku pergi. Sembunyikan aku dalam gelap, hilangkan aku dalam senyap.

Hei hujan dan malam, aku tak akan lari darimu. Datanglah dan bawa aku pergi. Aku tak kuat lagi disini.

 

Gadis itu datang lagi, berbaring di sampingku sambil mendengarkan bisikanku lirih. Aku tak lagi takut, aku tak lagi peduli. Aku hanya ingin segera terlelap. Aku sangat lelah hari ini..

Advertisements