Tags

,

Mencuri judul sebuah lagu, hei hei~~ adakah yang ingat dengan lagu ini?

Sebuah lagu oleh Abraham Alexander Tulong dalam albumnya Langkahku yang dirilis tahun 2005 ini merupakan salah satu dari segelintir lagu yang cukup berkesan buat gw. FYI, lagu Indonesia yang aku sukai biasanya lagu-lagu yang dibawakan oleh penyanyi pria dengan lirik yang bermakna. Jadi daftar lagu Indonesia di player list gw cukup sedikit.

Lantas kenapa lagu ini cukup berkesan buat gw? Liriknya (you can see the lyric here) cukup ‘mengena’ bila mengingat situasi gw saat itu. Lagu ini bercerita tentang seorang anak yang mempertanyakan arti dari cinta. Ada yang bisa defenisiin cinta? Jelasin dong ke gw~~ (or something alike). Pada akhirnya dia berkesimpulan bahwa mungkin dia baru bisa mengerti tentang cinta itu sendiri ketika ia mengalaminya.

Sebenarnya cukup menggelitik rasanya ketika gw mengdengarkan penyanyi pria berdendang galau soal cinta. Bukan, bukan karena gw mengharamkan cowo untuk punya perasaan atau gundah karena lawan jenis, lebih ke kenyataan bahwa si cowo bercerita kepada dunia bahwa dia gundah. Ahahaha. Tapi galau karena cinta bukan tentang gender, tapi tentang fitrah manusia (zzzz..) yang mau ga mau pasti pernah atau bakal dirasain. Mari mengheningkan cipta sebentar buat saudara-saudara kita yang sedang berperang dengan perasaan menyebalkan ini. *ngambil pianika lalu brisik sendiri tengah malam*

Oke, mengheningkan cipta selesai. Gw mau sedikit buka-bukaan soal sisi dark gw. Sediain senter ya? Barangkali gw tiba-tiba ga keliatan gara-gara saking gelapnya. lol

Dulunya gw satu dari sekian banyak cewe yang jadi objek perhatian lawan gendernya. Gw pernah ngasi tau di post sebelumnya bahwa gw pertama kali di-confess oleh cowo sewaktu kelas 1 SD. IYA, SD. DAN IYA, KELAS 1. Tentunya saat itu gw belum mengerti konsep tentang ketertarikan akan lawan jenis walaupun gw masih sering bermasalah dengan teman sekelas (cewe) lainnya karena masalah cinta. Respon lw dulu gimana fit, kalo kena masalah ama temen sekelas gara-gara hal beginian? Respon? Hm.. Garuk-garuk kepala ga ngerti lalu dengan bingung ninggalin temen gw yang lagi berbusa marah-marah dan ikutan bingung karena ditinggal gt aja ama gw. Haha.

Mungkin karena konsep cinta bagi gw terlalu luas, jadinya gw ga gitu berharap atau menuntut banyak. Cinta itu saat mama ngasi gw makanan kesukaan gw walaupun beliau sendiri harus nahan lapar buat ngisi perut gw. Cinta itu ketika papa beliin gw ayam goreng ketika dagangan beliau sendiri belum laku. Ahaha, iya gw dulu miskin. Yang namanya makan nasi ama garam itu hal biasa buat gw. Seengganya gw ga minder ama temen karena otak gw encer. Cuma saat itu gw ngerasa minus beberapa hal. Acceptance, Love.

Menimbang gw anak satu-satunya (saat itu), adalah hal yang wajar kalau gw harus memikul sejuta ekspektasi. Meski pada akhirnya gw punya 2 adik, ekspektasi yang gw pikul jauh jauh lebih berat dari mereka. Seleksi alam di kehidupan berat sobat. Katakanlah gw salah satu spesies yang sebenarnya ga kuat, tapi maksain diri buat tetap hidup. Wajar saja jika gw harus membayar waktu yang gw prolog dengan mahal bukan? My cheerfulness starting to disappear. Gw yang dulunya objek affection mendadak turun jabatan jadi invis. Disaat yang sama, gw terlalu sibuk.
Hey, I am trying so hard here. Would you accept me the way I am?
Hey, I am trying so hard to be the person you’ve wished. Would you say that you are proud of me?
Hey, I am trying so hard here. Would you recognize me?

Pertanyaannya, seberapa banyak anak yang bahkan belum menginjak bangku SMP hidup dengan kondisi demikian?

Mari tak menyalahkan siapa-siapa. Bukan kesalahan orang tua, bukan kesalahan gw, bukan kesalahan lingkungan gw, bukan kesalahan orang-orang disekeliling gw. It just happened. Benar, gw punya ekspektasi bahwa gw mungkin mengenal cinta keluarga. Benar gw ngerasa dikhianati oleh ekspektasi gw hingga si 9 tahun fitri punya motto: “tak seorangpun didunia ini yang bertanggung jawab untuk membahagiakan atau menjaga senyumanku. walaupun mereka keluargaku sendiri.” Benar pernyataan gw itu logis, tapi buat anak umur 9 tahun?

Terkadang gw ngeliat adek gw yang udah lebih besar dibanding usia gw saat itu. Gw ga bisa bayangin kalo adek gw yang diposisi gw dulu. Mungkin gw bakal peluk dia setiap harinya. Gw ga bakal izinin dia buat make senyum palsu atau nangis sembunyi-sembunyi. Gw bakal bawa dia pergi dari situasi dia. Kadang saat gw liat anak seusia gw dulu, tanpa sadar gw sedih sendiri. WHY? WASN’T THEM SUPPOSE TO BE THOSE ADULT? WHY AM I THE ONE WHO HAVE TO HOLD BACK?

Terlepas dari cerita hiperbola gw yang gw tangisi dengan penuh drama, gw sadar bahwa selalu ada yang lebih susah kehidupannya dibanding gw. Ada orang yang ga punya ruang buat menangisi kesusahan mereka karena mereka sibuk mencari atap tempat bermalam setiap harinya. Ada yang ga punya ruang buat ngerasa lelah dengan kepalsuan mereka karena tiap harinya sibuk mengais sesuap makan. But, you know.. Saat itu, hingga sekarang, gw cuma butuh didengarkan. Gw cuma butuh dilihat. Lelah berharap bahwa gw mungkin bakal disayang tanpa perlu mencoba terlalu keras, gw lantas terbiasa menyandang gelar itu. Gw terbiasa di posisi itu. “Fitri tersayang, syarat dan ketentuan berlaku”. Haha *miris*

Ga tau kapan persisnya, gw mulai mengasingkan diri di dunia gw. Gw selalu dekat tapi jauh. Menginjak dunia SMP, gw tak lagi punya kosa kata cinta di kamus gw. Alah, alibi. Bilang aja ga ada yang naksir lw. Udah suram, jelek, pendek. Ngaku. Ngakuuuu!! Ya ya ya, gw jelek, suram dan (dulunya) pendek. —
Soal ada yang naksir atau engga, err.. my ex was a friend from back then. Tentunya gw ga jadian waktu SMP karena gw selalu lari ketika diperlakukan istimewa. Why? Karena gw takut. Funny? YES!

Sampai saat ini gw sama sekali ga ngerti makna cinta. Bukankah cinta itu memberi tanpa harga? Tapi ada harga yang harus gw bayar buat kasih dari orang tua. Ada harga yang harus gw bayar buat sebuah posisi di keluarga. Bagaimana mungkin orang yang tak punya hubungan apapun dengan gw menawarkan emosi yang paling berharga dalam diri dia tanpa harga? Love without price? Bullshit! Love unconditionally? Bullshit! This is not a fairytale. Dude, this is life! Jadi gw takut. Ketika dikejar cinta, gw takut akan harga yang harus gw bayar. Gw ga sanggup bayar lebih mahal, jadi gw lari.

I am a Coward who loves to run, and those so-called lovers are a coward who wish to confide in me. God, I am tired. Jadi gw berbalik badan berpaling dari konsep cinta yang katanya murni dan diagung-agungkan. Ketika orang berkata: “Emang gampang fit, jadian. Ga gampang!”. Gw ga bisa menahan diri buat tersenyum sinis sambil mengejek dalam hati. Boy, who do you think you are talking to? Dont think so highly of such a crap! Apa susahnya? Ditembak, jadian. Nembak, jadian. Ga suka? Putus. Ga mau putus? Ya tahan aja ga sukanya. Easy right? It’s not like I am so green that I am never in relationship.

Gw ga tau cerita tentang seorang cewe menikah lalu berbahagia dimanja suami, so spare me from your dream. Gw ga tau soal cewe jadian lalu bisa jadi diri dia sendiri dan disayang ama pacar tanpa harus bayar apapun, so spare me from your daydreaming. Being confessed is a polite way of being asked “may I get in your bed?”. Say I am wrong but all of my exs did fantasize about that. Jadi jangan tanya: “menurut lw cinta itu apaan fit?”. It’s a word okay? It’s a sacred word that is not suppose to be said by such unworthy thing like me.

“Fit.. sayang dong, ama diri sendiri..” HOW? What does it mean by loving yourself? How did I do it? HOW? Jika aku yang sekarang merupakan wujud manusia yang zalim akan dirinya sendiri, bukankah tanggung jawab dan ekspektasi mereka yang memposisikan gw di sini? Lantas tanpa rasa bersalah berkata meminta gw belajar buat sayang ama diri sendiri? Well, would you strip me from your expectation and responsibilities then? Lucu. Lucu karena jawabannya ‘tidak’. My dear, I am but one body and one soul. I can’t do two when I only have one. Take away one, then I’ll do the other one. Simple yet is not to your satisfaction right? Isn’t that why you don’t talk to me? Isn’t that why you can’t help but looking so annoyed just by the sight of me?

For my whole life, all I want is just to be accepted by you. Just by you. In the end, to be accepted by you is a miracle right? Do you know why miracle is a miracle? Because they never happen. It’s one in a million possibility of one in a million. I am never a lucky person you know. I give up.

Mungkin pada akhirnya, gw ga akan seberuntung kalian yang sempat menangis karena patah hati atau bertengkar. Gw ga akan ngerasain yang namanya kebahagiaan tanpa perlu mencoba untuk berbahagia. But that’s okay. I give up. I dont care anymore. Haha..

Advertisements