Tags

, , , ,

Telfon genggamku kembali bergetar, nomer asing tak dikenal lagi lagi mengirimiku pesan

“Hey fit, ini nanda. Apa kabar nih? Udah lama banget kita ga ngobrol-ngobrol ya? Aku kangen ngobrol-ngobrol lagi ama kamu. Ahaha”

Aku mendelik. Apa-apaan?

Ku colek rina sahabat karibku yang sibuk mengunyah gorengan.

Rin, liat deh. Masa Nanda sms aku gini? Ngapain cewe sms aku begini?? *meringis*

Hm? Mana? Sini liat.
(Membaca pesan yang ku terima)
Eh fit. Ini bukannya Nanda yang sekelas ama kita jaman matrikulasi dulu ya?

Nanda? Nanda manaaa???

Itu loooh Nanda anak Fisika, masa kamu lupa sih??

Rinaa, aku kan paling susah inget nama anak-anak. Nama dosen aja aku suka lupa, boro-boro anak jurusan lain.. *garuk-garuk kepala*

Hmm. Oia, kan kita ketemu dia kemaren waktu makan di warteg. Inget nggak?

Ah, si ikhwan itu? Namanya nanda ya? I see I see. Ntar deh aku bales lagi smsnya.

Hari mulai beranjak petang. Aku duduk menikmati segelas kopi sambil membuka folder-folder yang berantakan di laptopku. Lagi, HP ku kembali bergetar. Aku paling malas berbalas pesan. Satu-satunya pesan yang tak membuatku kesal adalah jarkom kelas. Maka dengan berat hati aku merangkak menggapai nokia tersayang.

Fit lagi apa? Kamu sibuk ngga sore ini?

(lagi??)
Hei Nanda. Engga kok, Cuma lagi bongkar bongkar isi laptop aja. Kenapa?

Aku boleh main ke kosan kamu engga?

Kosan aku? Uhm, boleh boleh aja sih. Tapi cowo Cuma bisa mangkal di teras luar. Kamu ga keberatan?

Gpp kok. Nanti abis magrib aku kesana yaa. BTW kosan kamu dimana?

Karona-cewe, aku di perwira. Kamu familar ama daerah perwira ga?

Karona? Oh, kalo karona aku tau. Nanti aku kesana ya?

Oke, see u later

Ah.. Rencanaku untuk tidur lebih awal gagal. Akan sangat tak sopan jika aku menolak mengijinkan dia datang ke kosanku tanpa alasan. Menjadi bangsa Indonesia ada minusnya, terlalu menjunjung tinggi basa-basi. Demi menghargai dia yang aku tak ingat persis kepribadiannya, aku harus mengikhlaskan waktuku untuknya. Ku lirik celana jeans dan jaket yang kugantung di pintu. Argh.. Males mandi. Sambil menyeret kaki, aku bergerak menarik handuk. Argh.. Dingiin..

Azan menggema, aku bergegas sholat lalu sambil tersenyum menyalakan laptop. Ahh.. Ini syurga. Aku lantas menimbang-nimbang apakah aku akan menyeduh capuccino atau  kopi malam itu. Lantas lagi lagi, ya, lagi lagi, Lagi lagi HP berdering. Aku dengan malas membuka pesan tersebut.

Fit, aku udah depan kosan kamu niih.

(eh? Depan kosan? Ngapain?)
Nanda? Ahaha, kamu udah magrib?

Udah, aku tunggu di depan yaa

(Crap! Aku lupa akan agendaku dengannya)
Ahaha, bentar ya. Aku pake jilbab dulu..

Kukenakan celana jeans yang sudah berhari-hari belum ku cuci, ku sambar jaket dan bergo lalu berjalan menuju pintu pagar. Hei, kamu sudah disana ternyata, tersenyum tak sabar sambil bergegas berjalan ke arahku. Ku persilahkan kamu duduk di teras kosan, lantas mengambil piring tuk sajikan martabak yang kamu bawa.

Maaf ya nanda, Cuma air putih. Atau kamu mau aku bikinin Kopi?

Engga fit, ini aja udah cukup kok.
Dimakan fit martabaknya.

Ah.. Maaf ya nanda. Aku paling ga bisa makan yang manis-manis. Kan aku udah manis, ehehe

Eh? Jadi kamu doyannya apaan?

Yep, kita berbicara panjang lebar malam itu. Lebih tepatnya kamu sibuk bermonolog sementara aku hanya merespon dengan anggukan atau kata-kata: “hm?”, “ Iya?”, “Wahh.”, “Gitu?”. Ku simpulkan kamu cocok sekali kuliah di jurusan Komunikasi.  Lantas kenapa kamu malah nyasar di jurusan fisika? Aku kemudian takjub dengan kamu yang tak penat berbicara. Apakah kerongkongan kamu tak terasa kering? Apakah kamu akan bercerita tentang seluruh sejarah hidupmu malam ini? Namun bibir itu terus bergerak. Wow. Ternyata manusia mampu berbicara tanpa henti berjam-jam. Ini baru.

Ku tatap jam di telfon genggamku. Malam semakin malam, aku mulai bosan. Pantas saja, sudah pukul 11 malam. Aku mulai menguap, dengan sopan berusaha mengusirmu. Hebatnya kamu tak kunjung sadar. Argh!!!  Kulirik gelasmu yang telah kosong, lantas aku menawarkan untuk mengisi gelas itu kembali. Kukira kamu segera sadar betapa malamnya saat ini. Bodohnya aku berharap akan yang tak mungkin. Jelas saja, mata dan telinganya hanya mengenal aku. Melihat jam dan menyadari larutnya malam saat itu? Ain’t nobody go time for that. Haha. Damn!

Tak sampai semenit aku kembali duduk di sisimu. Kamu tersenyum. Melanjutkan ceritamu sambil mengindahkan aku yang sibuk menopang wajah. Mataku mulai memerah dan aku menguap sedemikian jelas. HEY!! AKU NGANTUUUK!!! Sayangnya butuh waktu berjam-jam untuk membangunkanmu dari euforiamu. Berjam-jam kemudian, saat kamu akhirnya sadar ini sudah pukul 3 pagi, kamu memutuskan untuk pulang. Kamu berpamitan sambil penuh harap meminta kesempatan untuk bertemu kembali. Yeah, whatever, let me sleep. Akhirnya, kamu pulang. Aku terhuyung-huyung berjalan ke kamar sambil berbisik. Dikit lagi fit, dikit lagi ketemu kasur. Ah.. finally! Tiduuuur.

Hari ini aku benci dengan telfon genggamku. Ingin ku non-aktifkan saja kalau bukan karena jarkom yang mungkin mendadak datang. Nanda.. gimme a break.. Bahkan pesan baru sudah bersarang di HP ku sebelum aku bangun untuk subuh. Isn’t this kind of too much?? Tak kupedulikan, pesan baru kembali datang. Sial, mau tak mau aku terpaksa merespon pesan konyolmu. Ah, aku tak sedingin itu untuk terlalu kesal dengan pesan pesanmu. Nyatanya aku tak begitu keberatan. Aku Cuma malas. Sangat-sangat malas Nanda.

Fit maaf ya, kemaren aku kelamaan mampir di kosan kamu. Kamu ga marah kan?

Fit, kamu lagi apa? Udah bangun belum? Kamu ga marah kan ama aku?

Fit, kamu marah? Maaf ya kemaren aku main kelamaan..

Argh.. Kuputuskan untuk membaca pesan terbaru lantas membalasnya.

Hei nanda, pagi. Maaf aku baru bales smsnya. Aku baru check HP lagi. Engga marah kok. Ahaha. Santai aja..

Ah, gitu? Ehehe. Aku kira kamu marah. Aku boleh main ke kamu lagi ga?

Boleh aja, kapan?

Kalo siang ini boleh engga?

Uhm.. Aku ada kuliah ampe sore Nanda. Besok aja gimana? Besok aku kosong seharian..

Kamu pulang jam berapa entar? Aku tungguin deh.

Agak sore nanda… Paling cepet jam 5 sore. Kasian kamunya kalo nungguin.

Gpp deh fit. Nanti jam 5 aku standby. Kamu kalo udah pulang kabarin aku ya?

Mhm. Sampe nanti

Dan hari itu merupakan salah satu hari dimana aku berharap sore tak akan datang. God, can you skip today and just make it become tomorrow? Please?

Aku bergegas mandi karena kamu sudah menunggu. Aku bergegas ganti baju karena kamu sudah menunggu. Argh!!! Aku kembali membuka pagar sambil melihatmu yang bergelayut disana. Wajahmu cerah penuh euforia. “Kangen ya?”, ujarku. Aku kemudian tertawa melihat wajahmu yang memerah. Bahkan usahamu untuk menutupi wajahmu sia-sia lantaran telinga dan lehermupun ikut merona. Lagi, ini baru. Mungkin aku tak akan begitu bosan sore ini.

Kamu kembali bercerita hingga aku mengusirmu pulang untuk sholat magrib. Tentunya kamu datang kembali, mentraktirku makan malam di tenda tempat nasi goreng favoritku. Kamu mengendarai motormu dengan perlahan dan hati-hati. Tak lupa sesekali kamu mengajakku mendongak keatas melihat bintang yang menurutmu indah. Uhm. Ya.. Err.. bintangnya indah. Aku tertawa dalam hati akan responku yang kikuk. Hahaha. Fit, kamu memang sangat sangat tak cocok berpura-pura manis dan romantis. Aku pasti akan menertawakan akting burukmu malam ini berminggu-minggu.

Kembali ke kosan, malam itu aku menolak mempersilakan kamu untuk singgah terlalu lama. Aku beralibi bahwa terlalu banyak deadline tugas yang harus kukejar. Untungnya kamu mengerti walau kecewa. Setidaknya malam ini aku bisa tidur lebih cepat. Sesekali berbohong tak mengapa bukan?

Lagi. Kamu mengirim pesan kembali. Aku mulai kesal. Kesal sekali. Ku putar otak hingga ku temukan sebuah ide. Brilliant! Aku bisa menolaknya tanpa harus merasa bersalah. Disela sela pesan tersebut kukirimkan pesan yang seharusnya kukirimkan pada ‘pacarku’ kepada nanda.

De, aku tau kamu sibuk.. Aku juga ga nuntut kamu buat selalu inget ama aku. Tapi masa pacar sendiri dianggurin berhari-hari? Ntar aku lupa ama kamu loh..

…Fit, kamu salah kirim sms kayaknya..

Eh? Ya ampuuun. Maaf ya Nanda. Aku ga sengaja send ke ‘recently used’ number. Ahaha, silly me. :p

Ntar kita ketemu ya? Aku kekosan kamu pokoknya.

Agak sorean gpp? Aku lagi nugas..

Gpp, ntar kalo kamu udah senggang sms aku ya.

Mhm, later then. 🙂

Kamu menatapku dengan perasaan bercampur aduk

..kamu udah punya pacar fit?

Ahaha, iya. LDR. Kenapa nanda?

Aku kira kamu ngga punya pacar..

Kemudian kamu bergegas menghilang dari tempat itu. Aku menghela nafas lega. Akhirnya berakhir juga. Mungkin aku harus sujud syukur?

Seminggu kemudian aku melihatmu dijalanan dekat gang kampus. Kamu membonceng seorang wanita yang melingkarkan tangannya di pinggangmu. Aku tertawa tak percaya. Apakah yang sedang terjadi. Nanda? Aku tak kenal mahluk bernama nanda. Ahaha, aku tertawa tanpa henti. Malam itu aku sibuk menggelengkan kepala. Pria paling gila dikehidupanku? Dialah Nanda.

Advertisements