Tags

, , ,

Aku tak tau bagaimana persisnya, tiba-tiba kita berjalan bersama di tengah lorong-lorong pasar. Kamu lantas berhenti, menarik tanganku yang berhias sebuah gelang lusuh sambil memilih-milih penggantinya di etalase sana. Tanpa ragu, kamu mengambil sebuah gelang mahal berhias 2 batu giok hitam penuh ukiran yang berbalut emas putih.

“Ga usah ayah, gelangnya kebesaran..”

Kamu lalu membujukku untuk menerimanya, meyakinkan aku bahwa gelang ini bisa diperkecil seukuran pergelangan tanganku nanti. Namun aku takut akan perhiasan mahal dan harga dari kemewahannya, maka aku bersikukuh untuk menolaknya. Di detik itu ayah, aku merasakan sekelumit cinta. Aku tak percaya bahwa defenisi aku akan cinta telah mendegradasi sedemikian rupa..

Ini kisah tentang mimpiku tadi malam

Beberapa bulan yang lalu ibuku menikah dengan seorang duda. Aku resmi punya ayah tiri dan dua orang saudara baru. Meski berminggu-minggu telah berlalu, aku masih tak terbiasa memanggil beliau ayah. Aku masih tak bisa membiarkan beliau memanjakanku dengan kemewahan hartanya yang berlimpah. Sudah sangat lama kehidupanku hanya diisi oleh ibu. Aku terbiasa akan kesunyian dunia saat beliau sibuk mengais sebutir beras. Lantas tiba-tiba duniaku penuh suara. Aku takut.

“Fit, ini saudara barumu. Kamu selalu ingin punya kakak dan adik bukan? Lihatlah, kamu bahkan punya seorang kakak laki-laki dan adik perempuan. Ini keluarga impianmu. Kamu bahagia kan?”

Aku mengukir seulas senyum sambil berusaha menutupi rona bahagia di mataku. Berapa tahun lamanya aku bermimpi punya saudara? Aku bahkan punya seorang kakak laki-laki yang aku impikan. Bukankah aku sangat beruntung? Hari itu aku sibuk tersenyum dan tertawa bersama saudara baruku. Ah, benarkah hidup bisa seindah ini? Aku punya seorang ayah yang bisa aku andalkan. Aku punya seorang kakak yang peduli padaku, dan aku punya seorang adik yang sangat sayang padaku. Benarkah ini nyata?

Ayah, itu kamar siapa?

Aku berhenti sejenak saat kami sedang berjalan mengitari rumah sambil mengarahkan jari telunjukku ke kamar yang sepi. Kamar ini serasa mirip denganku. Ada tumpukan boneka lusuh dijejalkan dalam sebuah kotak besar. Aku melangkah masuk memandang berkeliling. Ya, tak salah lagi, kamar ini benar-benar mirip denganku. Kamar ini benar-benar luas namun hanya berisikan satu tempat tidur dan tumpukan kardus. Alas tidur maupun seprei semuanya berwarna pucat, semakin pucat dengan cat kamar yang sudah pudar. Dinding kamarpun layaknya sebuah etalase besar, penuh oleh jendela kaca yang besar dan sebuh pintu. Aku ingin tinggal di kamar ini.

Kutatap ayah yang mulai berbicara dengan raut sedih, air mukanya berubah. Beliau menghela nafas panjang sambil berujar:

Ini.. kamar anak pertama ayah.. Claudia. Dia sudah lama meninggal. Mungkin karena saat itu adalah pertama kalinya ayah punya seorang anak, ayah gagal..

Beliau bergerak mendekati salah-satu tumpukan boneka lantas mengelusnya. Beliau benar-benar bersedih. Ku urungkan niatku untuk meminta diizinkan tidur dikamar tersebut. Perlahan aku mulai sadar, mungkin bagi beliau aku adalah Claudia. Aku mulai mengerti cinta dan kesedihan yang terbesit di matanya setiap memandangku. Mungkin ada kemiripan antara aku dan Claudia. Is it the cluod in my eyes? Meski begitu, aku benar-benar ingin tinggal dikamar ini. Mungkin bukan sekarang, nanti saat ayah tak lagi melihat bayangan Claudia dalam diriku.

Aku menghela nafas panjang sambil memandang kearah jendela. Detik itu, aku terjaga

Ada seberkas rasa hangat direlung dada. Ini pertama kalinya setelah ratusan hari dimana aku membuka mata di pagi hari sambil tersenyum. Benar, ini hanyalah ilusi. Namun ilusi itu menghadiahkan rasa bahwa aku dicintai, dan kehangatan yang aku rasa nyata. Aku tak percaya bahwa defenisi cinta bagiku telah mendegradasi sedemikian rupa. Apakah aku telah berlari terlalu jauh? Mungkinkah aku mencari cinta dalam khayalanku karena tak mampu lagi mengais secercah rasa di kehidupan nyata? Apakah aku telah tersesat sejauh ini?

It’s overflowing. The sadness and loneliness is overflowing. I might feel numb and sick of wishing for it, but I can’t escape my own emotion. When the night wishpers, the feeling would overflow again, creating a world where this hunger would be feed. What a monster I am..

Aku berdiri lalu membalikkan cermin yang dengan sengaja ku balikkan tadi malam. Aku lantas tersenyum sinis saat sebuah suara berteriak di kepalaku. “MONSTER!!”

Advertisements