Tags

, ,

Belakangan ini oksigen benar-benar kejam padaku. Setiap hari, layaknya seorang kekasih, tak pernah ia lupa mengingatkanku betapa aku butuh akannya. Ya, oksigen benar-benar posesif. Saat aku lupa betapa mahalnya udara yang aku hirup, mendadak oksigen mulai menghilang. Rasanya sesak, sakit. Hey oksigen, aku tau aku butuh kamu. Bisakah kamu berhenti mengingatkanku betapa aku tak bisa hidup tanpa kamu? Aku tak mungkin selingkuh lantas memutuskan untuk menghirup karbon dioksida atau karbon monoksida. Jadi, bisakah kita berhenti bertengkar dan biarkan aku bernafas lega?

Aku melamun menatap air yang menetes dari keran. Ah.. benar-benar keras kepala.. Tanganku terasa bebal sehabis bertengkar dengan tetesan air ini. Tak peduli seberapa keras aku memutar keran tersebut, masih saja ada setetes air yang menyelip keluar. Tess.. tess.. Aku mulai menggaruk kepala yang tak gatal sambil mengangkat bahu. White flag, aku menyerah. Ku putuskan untuk beranjak dan melangkah menuju ruang tamu. Ah.. bosan..

Aku melangkah kesana kemari, mencari titik untuk berdiri dan berhenti. Pandanganku lantas tertuju pada ikan emas peliharaan adikku. Kutatap gerak gerik mulut mereka. Ah.. hei, apakah kalian merasa sesak juga? Ah, kita sama. Oksigen juga kejam padaku. Tapi tunggu, bukannya kalian bisa bernafas dalam air? Ini bukan akuarium, hanya toples kecil tanpa hiasan apapun. Ah, bagaimana duniaku dari dalam sana? Apakah menakjubkan? Mau bertukar tempat denganku?

Mungkin kalian akan lebih bahagia jika bisa bebas berenang di alam sana. Ah, aku akan ikut melompat bersama kalian kedalam sungai. Aku benar-benar rindu memainkan kakiku dengan alirannya, menyapa ikan-ikan kecil yang ada, lantas membuat mahkota bunga dari rumput liar yang ada. Aku tak bisa berenang, jadi kita ke sungai kecil saja ya?

Tapi.. meski tak sedang di dalam sungai.. aku tenggelam tiap harinya. Aneh bukan? Serasa hanyut terbawa arus, aku konstan tenggelam dan naik ke permukaan. Layaknya lingkaran setan, aku kembali tenggelam dan naik ke permukaan. Aku meronta-ronta, mengerakkan tangan dan kakiku. Akankah aku berhenti disebuah titik? Jika memang aku tak akan lagi bisa merangkai mahkota bunga, jangan naikkan aku ke permukaan. Biarkan aku tenggelam disini, biarkan oksigen mencariku. Aku lelah terus membutuhkannya, aku ingin ia butuh aku. Ego yang sangat bodoh bukan?

Berdoa fit.. Ada Allah..

Aku takut cher, aku takut..

Kamu takut apa? Allah selalu ada buat umatnya

Aku takut akan harga dari harapanku. Aku ga punya apapun yang bisa aku korbankan lagi..

Tapi fit..

Aku harus berdoa apa? Minta dimudahkan? Bukankah tuhan hanya menguji hamba-Nya sebatas kemampuan mereka? Aku harus meminta apa? Minta masalahku dihilangkan? Bukankah ini akibat dari tindakanku? Tak malukah aku?

Tapi ini berat.. Aku mulai memukul-mukul pelan dadaku, berusaha menghilangkan sesak yang ada. Aku mengorek-ngorek kerongkonganku berusaha meniadakan ganjalan di yang ada. Ah.. oksigen.. Oksigen, kamu dimana? Kamu sedang merajuk lagi? Hei, ini konyol.. Kamu lebih memilih aku berhenti bernafas? Apakah aku harus membantumu untuk mewujudkan hal tersebut? Ah? Hei, kamu kembali! Ahaha, sudah kuduga. Kamu masih ingin aku ada bukan?

Hei, meski sering membuatku pusing dan kehabisan nafas, kamu masih mencintaiku bukan? Walaupun kamu tak pernah bosan membuatku lelah setiap harinya, kamu masih menginginkanku bukan? Oksigen, kamu benar-benar beruntung. Kamu beruntung karena aku benar-benar butuh akan cintamu. Meski aku sakit tiap harinya karena ulahmu, meski aku lelah tiap harinya karena ulahmu, tak mengapa. Aku akan tetap setia mengharap cintamu. Aku butuh cinta untuk tetap hidup. Jadi meski kejam, meski sakit, tak mengapa.. Ah, tapi bisakah kamu berhenti marah padaku tiap harinya? Aku masih ingin membuka mata walau hanya sedetik lebih lama..

Advertisements