Tags

, , ,

Aku terhenyak saat membaca status salah seorang temanku di facebook. Aku menatapnya tak percaya. Tak mungkin, tak mungkin, tak mungkin!!! Lantas dengan gugup aku membuka profil facebooknya lalu tertawa keras, “studying in Japan”. Dia, orang yang lebih bebas tertawa dibanding aku sampai kesana. Masih ingat bagaimana ia bercerita tentang harapannya untuk bersekolah S2 di negeri sakura sana. Aku pun saat itu bercita-cita untuk ke negeri kangguru, berkantong nilai TOEFL yang hampir menyentuh angka 600. Iya, aku pun berdiri di titik yang sama, sebelum aku menelan kenyataan bahwa IPK ku terlalu kecil untuk beasiswa manapun, sebelum aku menelan kenyataan bahwa pekerjaanku adalah penghinaan akan jurusanku, sebelum bencana besar itu terjadi saat kepulanganku. Bagaimana mungkin semua orang melangkah maju saat aku masih terduduk disini?

Aku menatap cermin sambil menelan suara jeritan menyaksikan harga diriku hancur berkeping-keping. Aku takut keluar sana. Aku takut akan mereka. Akan lebih mudah jika aku punya tempat untuk bersandar ataupun objek untuk ku salahkan. Namun siapa? Siapa yang harus ku salahkan?

Mau lanjut S2? Hah! Adek masih kecil harus disekolahin! Percuma kuliah! IP kecil begitu! , bukankah temanku dengan IP yang sama sukses bekerja dengan gaji yang lebih baik dariku?

Mau kamu kerja seumur hidup pun, ga bakal bisa ganti biaya buat nguliahin kamu!, lantas aku harus bagaimana? Ku kira aku sudah berdiri lebih baik saat aku tak lagi meminta-minta.

Gaji kecil begitu! Income sehari disini aja lebih gede dari gaji kamu sebulan!!, stop, please. Stop..

Kamu dari kecil nyusahin. Udahlah hidup aku susah, trus makin sakit nge gedein kamu. Kamu tau, punya anak kayak kamu sama aja KELUAR KANDANG SINGA MASUK KANDANG BUAYA!!“. Tidaak!! Siapapun tolong buat dia berenti. please..

Kamu tau, tiap kumpul keluarga orang pada nanyain! Orang pada nanyain!“.

…..

Gelap, mendadak pandanganku gelap. Aku berusaha mengumpulkan nafas disela isakan tangisanku. Pada akhirnya bukan berharap akan kebahagianku yang membuatmu mendorongku kesini. Pada akhirnya, ini semua bukan tentang aku. Aku tak peduli lagi. Bahkan jika Allah menghentikan nafasku di detik ini, aku tak akan peduli.

Salahku kah aku anak tertua? Aku bahkan tak bisa menikmati gajiku lantaran sibuk menabung demi menyisihkan sedikit demi sedikit agar bisa membiayai adikku nantinya. Aku tak bisa ke restoran atau jalan-jalan. Aku bahkan tak bisa berbelanja kecuali aku benar-benar butuh. Salahku kah aku anak tertua?

Salahku kah gajiku kecil? Gaji yang bahkan tak menyentuh angka 2,5 juta kutabung hampir setengahnya. Aku bahkan sahur dan sarapan dengan selembar roti tawar atau mie instan karena biaya bulanan di jakarta sangat besar. Setidaknya aku tak lagi meminta serupiahpun pada mereka. Setidaknya dengan tabungan yang kukumpulkan sambil menzhalimi diriku ini bisa kugunakan untuk belanja adikku. Haruskah beliau menginjak-injakku sedemikian?

Lantas salahku kah jika aku lahir? Betapa aku tak mau jadi parasit, betapa aku berusaha untuk mengejar bayangan anak impiannya. Salahku kah jika aku ada?

Aku mengorbankan banyak hal untuk sampai ketitik ini. Pernahkah aku egois tanpa menimbang inginnya? Pernahkah aku bersikeras saat beliau menunjukkan rasa tak suka? Pernahkah aku membantah saat beliau menyalahkanku dengan semena-mena?

Aku menyerah untuk memperoleh cinta dari keluarga besar ataupun sahabatku. Aku menyerah untuk berharap atau punya mimpi karena berharap akan diakui olehmu. Aku menyerah menikmati rupiah darimu karena sadar bahwa ada 2 insan selain aku yang harus kamu besarkan.

Lantas gadis kecil yang terperangkap ditubuhku memborontak marah dan benci. Pernahkah aku seperti adikku? Seusia mereka aku sudah terbiasa mengurus diri, lantas kemudian kamu mencaci betapa kurangnya aku. Kamu sibuk menghadiahkan orang-orang yang lebih baik dariku dengan pujianmu. Sadarkah  kamu betapa lelahnya aku berlari kesana kemari demi seulas senyummu? Salahkah aku jika aku lelah?

Pernahkah aku memperoleh nilai dibawah 90 tanpa dicap bodoh olehmu? Lantas adikku bahkan terbiasa dengan nilai dibawah 70 tanpa hardik darimu. Pernahkah aku membuatmu malu dan dipanggil kesekolah karena ulahku? Lantas adikku sibuk mengadiahkan surat dari gurunya yang memanggilmu kesekolah tanpa caci maki darimu. Kenapa aku yang jadi noda dalam hidupmu? Kenapa aku yang jadi duri dalam hidupmu?

Bukankah aku tak menangis padamu saat tubuhku sakit karena belajar bersepeda dengan sepeda rusak milik tetangga? Bukankah aku tak menangis padamu saat tetangga menutup jendela karena aku mengintip untuk menonton televisi mereka? Bukankah aku tak menangis saat tak ada lauk dan kita hanya makan dengan nasi yang dicampur garam? Aku bahkan tak menyisakan makanan meski tak suka. Bukankah aku selalu tersenyum dan mengatakan aku menyukai pemberianmu. Bukankah aku slalu memutuskan untuk setuju dengan keputusanmu?

Bukankah aku selalu mundur saat aku bisa melangkah maju demi menghindari kerutan di keningmu? Bukankah aku selalu mundur dan diam saat aku bisa bicara demi menjaga harga dirimu? Bukankah aku berkali-kali menyerah dan meng-iyakan saat kamu meminta sesuatu dariku? Bukankah aku menyerah untuk berfikir bahwa hidupku adalah milikku?

Bukankah aku tak bercerita padamu saat aku diperlakukan dengan tak adil oleh keluarga? Bukankah aku menahan diri untuk tak bertingkah saat aku diperlakukan dengan tak adil oleh keluarga? Bukankah aku menahan diri dan menyerah akan banyak hal saa aku diperlakukan semena-mena oleh keluarga? Salahku kah aku diperlakukan begitu? Salahku kah karena aku tak mengadu? Salahku kah karena aku memaksakan senyum?

Apakah kamu tak bisa menerima jika aku tak sesakit kamu? Apakah karena aku masih tersenyum maka berkali-kali aku harus melangkah mundur? Apakah karena aku masih tertawa lantaran semua pengorbananku tak berbekas? Apakah karena aku masih terlihat bahagia maka kamu masih sanggup mendorongku jatuh?

Salahku kah jika aku tak mampu lagi berdiri?

Aku tak punya apa-apa lagi..

Aku menyerah memperoleh cintamu lantas mencintaimu semampuku. Aku tak mampu lagi mencintai keluargamu lantas memaksakan senyum dan tawa karena kamu mencintai mereka. Aku serba salah saat ibumu tertawa menceritakan kekuranganmu lantas aku kamu marahi karena menurutmu senyum pahitku adalah tertawa. Aku menyerah mempercayai ucapanmu karena kamu cepat sekali berubah fikiran. Aku.. aku..

Ma, aku sangat ingin ma diwisuda dikampus. Meski dengan IP yang pas-pasan dan tak membanggakan, aku ingin merasakan indah memorinya. Aku ingin tertawa dihari itu ditengah mama dan papa dikelilingi teman seperjuanganku nantinya. Karena aku ingin jadi anak yang berbakti, tak ku paksakan kamu untuk hadir. Karena aku ingin jadi anak yang berbakti, aku bahkan tak mempertimbangkan memaksa papa untuk datang. Karena aku ingin jadi kakak yang pengertian aku tak memaksamu untuk hadir. Dan demi mengobati sakitku akan hangusnya impianku maka aku memutuskan untuk tak berada disana dihari sakral tersebut. Salahku kah aku merasa pilu melihat temanku yang orang tuanya lebih tak mampu bisa hadir disisinya? Apa kurangnya diriku? Lantas mengapa mereka lebih pantas akan pengorbanan kecil dari orang tuanya ketika kita berdiri di titik yang sama?

Ma, aku bahkan tak peduli dan berhenti mencintai diri sendiri. Karena cintaku akan diri adalah wujud keegoisan bagimu maka jauh sebelum aku menginjak usia dewasa, aku sudah berhenti mencintai diriku. Aku menyerah untuk bahagia dan tertawa hingga aku terlalu takut akan banyak hal. Namun meski serasa berjalan di tepi jurang, aku selalu siap untuk jatuh demi bisa menarikmu ketitik yang aman. Begitu hinakah diriku?

Lantas tak bolehkah aku bermimpi? Tak bisakah kamu berhenti menginjak-injak haga diriku? Tak bisakah kamu berhenti mematahkan sayapku? Bukankah aku anakmu? Lantas salah siapakah aku berada dititik ini? Salahku kah karena aku yang lahir dari rahimmu? Salahku kah karena aku ada? Tak pernah sedetikpun aku mempertanyakan kenapa aku lahir dari rahimmu meski menjadi anak harapanmu begitu sakit dan berat. Apakah kamu akan terus memandangku jijik begitu?

Setahun telah berlalu namun jam di hatiku tak kunjung bergerak, salahku kah waktu ku berhenti? Ditiap harinya dadaku sakit, ada memar yang tinggal sebagai jejak tepukan dari tanganku saat aku tak bisa bernafas. Ditiap harinya kepalaku berat, aku sibuk menggaruk kerongkonganku dan menyembunyikan memar ditubuh bukti aku menyiksa diri. Aku jijik dengan diriku sendiri. Salahku kah jika aku rusak begini?

Kamu segalanya bagiku.. Aku menyerah untuk memiliki banyak hal karena mengimpikan bahwa kamu akan ikhlas memiliki aku sebagai anakmu. Kenapa harga kasihmu sangat mahal, ma? Aku telah merelakan senyum dan tawa untuk hilang dari hidupku, aku tak tau harus membayar kasihmu dengan apa. Kenapa sangat susah memperoleh kasihmu ma? Tak seharipun dikehidupan aku merasa aman dan akan senantiasa memperoleh kasihmu, salahku kah aku meras begitu?

Jika ini tentang kebaikanku maka sudah seharusnya begitu, namun jika ini tentang adikku maka mereka kebanggaan hidupmu?

Jika ini tentang kekuranganku maka aku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, namun jika ini tentang adikku maka mereka adalah anak yang masih belajar?

Kenapa aku dan mereka begitu berbeda? Salahku kah terlahir sebagai anak pertama?

Sudah sewajarnya kah jika hidupku tak sesakit kamu maka hidupku terlalu mudah?

Apakah aku tak boleh bersedih? Apakah aku tak boleh kecewa? Apakah aku tak boleh kesal? Kenapa ditiap percakapan kita aku selalu dibuat memilih untuk menjaga senyumanmu atau senyumanku? Kenapa meski aku selalu memilih untuk memalsukan senyumanku demi membiarkanmu tersenyum sedetik lebih lama, aku masih penuh dengan cela? Salahku kah aku masih tersenyum?

Lantas siapa yang harusku salahkan akan rusaknya diriku? Lantas siapa yang akan ku salahkan saat gadis kecil yang terperangkap ditubuhku sibuk menangis dan meronta-ronta? Lantas siapakah yang akan ku salahkan jika aku tak lagi punya apa-apa?

Begitu nihilkah harga kebahagiaanku bagimu? Lantas kenapa kamu biarkan aku terjatuh berkali-kali tanpa menoleh sekalipun saat aku berlari mengejarmu? Lantas kenapa kamu menutup mata saat aku menangis dan memohon iba darimu? Lantas kenapa kamu menutup telinga saat aku mencoba berharap pengertianmu? Salahku kah berharap iba dan pengertian darimu?

Jika memang kamu mengerti, lantas kenapa pengertian itu sirna dalam hitungan hari? Jika memang kamu iba, lantas mengapa rasa iba itu sirna saat melihat senyumku? Haruskah kusalahkan waktu karena terus bergerak? Salahku kah karena berharap iba dan pengertianmu dan luntur seiring bergulirnya waktu?

Tak berhargakah air mataku? Lantas kenapa kamu tak pernah bosan mengurasnya? Tak berhargakah aku? Lantas kenapa kamu biarkan aku lahir dan tetap hidup didunia ini. Salahkah aku karena aku bernafas?

Aku menahan rasa sakit yang makin menusuk melihat kesuksesan mereka. Bagaimana bisa mereka sampai disana saat starting line-ku jelas-jelas lebih baik dibanding mereka? Aku ingin bersyukur karena mengenal bagaimana rasanya saat duniaku hancur. Aku ingin bersyukur karena satu-satunya orang yang mampu menghancurkanku telah mendorongku jatuh, setidaknya tak ada lagi orang yang mampu membuatku lumpuh begini. Namun kemana akan kuteriakkan suara jeritan yang kukubur bertahun-tahun lamanya? Ego dan amarah menyeruak hingga bibir ini terpaksa ku kunci rapat. Sedih dan sakit terkilat disinar mataku hingga aku terpaksa mengurung diri. Salahku kah aku sakit begini? Salahku kah aku sedi begini? Salahku kah bahwa aku selalu salah? Lantas aku harus bagaimana..? Menghukum diriku lebih keras..?

Advertisements