Tags

, , , , , ,

Aku sedang berdiri di antara mereka para juara kelas, mengambil posisi paling depan dengan merasa bingung. What? Juara 1? Siapa? Huh? Namun bukan kenyataan bahwa aku menjadi juara kelas yang membuat hari itu berkesan bagiku. Mungkin aku akan segera lupa bahwa hari itu ada jika gadis itu tidak berkomentar iseng padaku. Aku masih ingat dengan persis kata-katanya.

Hei, harusnya dari juara 3 kamu juara 2 dulu. Baru juara 1..

Aku tak sempat merespon mendengar celotehannya yang terkesan lucu bagiku. Sejujurnya dia layaknya boneka, orang kedua setelah Nia yang menjadi objek kekagumanku. Yah, sayangnya cintaku bertepuk sebelah tangan(?). Disaat aku sibuk mengaguminya, dia sibuk merasa kesal dengan keberadaanku. Ah, hidup ini benar-benar jahat.

Saat itu aku baru pindah sekolah ke Indonesia. Pasca cek-cok antara guru dan tanteku, tante bersikukuh akan memindahkan aku dan sepupuku ke sekolah SD lain. Sejujurnya saat itu aku bagai salah satu keajaiban dunia. Sebagian teman baruku excited dan sebagian lainnya sibuk menertawakan ‘keanehan’-ku. Untungnya aku sibuk dengan dilema yang lain hingga tak punya waktu untuk menanggapi tatapan aneh orang-orang.

Indonesia memang tak seindah bayanganku. Rumor tentang rakyat indonesia yang sangat bersahabat langsung hancur saat aku pertama kali menginjakkan kakiku di sekolah. Beruntungnya aku tak lama di sekolah tersebut. Mungkin aku harus berterima kasih kepada guru yangg bertengkar dengan tante. Berkat beliau aku akhirnya menamatkan pendidikan sekolah dasar di SDN 39 Guguak Tinggi. *kangen

Di sekolah ini lah aku bertemu dengan sahabat karibku kini. Waktu itu aku lebih akrab dengan Nia lantaran merasa senang akan rambutnya yang juga merah seperti rambutku. Namun dia tak kalah cantik dimataku, terutama hidungnya yang sangat-sangat mancung itu! Benar-benar membuatku mengutuk hidungku yang tak kunjung-kunjung mancung. Kulitnya tak putih, tak seterang kulitku. Lantas kenapa senyumnya begitu bersinar?

Aku makin kagum melihatnya yang sangat pintar bertutur kata. Aku juga kagum akan koleksi majalah yang ia punya. Ah, aku benar-benar ingin meminjamnya. Andai saja waktu itu kita cukup dekat, aku tak perlu malu untuk meminjam satu atau dua majalah. Keluarganya pun termasuk keluarga kaya. Tuhan, kenapa aku dan dia begitu berbeda? Aku juga lebih pendek darinya. Ah, rasanya aku ingin menghilang saja.

Ah, dia juara 2! Keren!

Aku menatap kagum punggungnya dari belakang. Ini semester pertama pasca kepindahan aku ke sekolah ini. Aku bahkan tak ingat siapa yang saat itu berdiri di posisi juara pertama. Aku hanya ingat bahwa putri yang saat ini berdiri didepanku menyandang gelar juara 2. Iya, namanya putri. Lebih lengkapnya Rahmadini Putri, bukan Rahmadini Fitri, tapi Rahmadini Putri. Saat itu ia lebih dikenal dengan panggilan puput. Belakangan aku baru tau bahwa putri tidak begitu menyukai nama panggilan tersebut. Untungnya saat ini kita punya panggilan baru untuk satu sama lainnya, ‘cincah’. *senyum

Hei, harusnya dari juara 3 kamu juara 2 dulu. Baru juara 1..

Ah, putri! Aku tak lagi menatap punggungnya. Semester ini giliran aku yang berdiri di depannya. Tapi kenapa? Ah iya, saat itu aku menjadi juara kelas. Putri masih diposisi sebelumnya, memegang ranking 2 dan aku tak ingat siapa yang memperoleh ranking 3 saat itu. Aku harus merespon bagaimana? Bahkan komentarnya terdengar lucu bagiku. Jika aku tertawa saat ini apakah akan terkesan tak sopan? Uhm, mungkin sebaiknya aku tersenyum saja.

Aku lantas tersenyum sambil berucap kata yang tak lagi ku ingat. Kemudian aku membalikkan badan menatap kedepan. Ah, bukan kenyataan bahwa aku berdiri di posisi juara kelas yang membuat hari itu berkesan. Namun komentar putri yang benar-benar diluar perkiraanku yang membuatku tersenyum simpul. Aku sama sekali bukanlah orang yang kompetitif. Namun jika aku bisa lebih terlihat dimatanya, aku tak keberatan bertahan diposisi ranking satu agar bisa mendengarnya protes padaku di semester selanjutnya. Ahaha, harus ku akui, ini terdengar kejam dan kekanak-kanakan.

Namun tak ada salahnya bukan bagi anak-anak untuk bersikap kekanak-kanakan? Aku sangat senang saat ada yang menyadari keberadaanku, walaupun dalam konotasi yang negatif. Mungkin bisa disimpulkan bahwa aku benar-benar putus asa ingin ‘dilihat’. Siapa sangka sepenggal celotehan kesal dari putri-lah yang mampu membuatku tertawa senang? Jika wujud cinta akan sahabat itu nyata, mungkin benih cinta itu mulai tumbuh di detik ia mengucapkan kalimat tersebut. Aku tak tau ini baik atau sial baginya. Bagiku? Jelas saja aku beruntung! Hey, she’s like a diamond. A jewel in my life. She’s irreplacable!

Aku dan putri melanjutkan pendidikan SLTP disekolah yang berbeda. Kita kemudian bertemu kembali di SMAN3 Bukittinggi. Kita ditakdirkan untuk masuk ke kelas terkutuk SSI yang bahkan posisinya tersisihkan, dan kemudian kembali sekelas di kelas 3. Saat itu aku mulai akrab dengan Nova, teman sebangku yang hobinya meminjam uang jajanku setiap pulang sekolah. Hal yang paling kuingat dari putri versi sma adalah boneka. Putri layaknya kolektor boneka karena pacarnya sangat hobi menghadiahkannya boneka ditiap moment. Aku bersyukur dengan kenyataan bahwa aku takut dengan boneka, jika tidak aku akan kembali iri dengan putri dan segala kelebihannya. Ahaha.

Kita kemudian melanjutkan kuliah ke kampus yang berbeda. Aku memutuskan untuk mengambil jatah PMDK yang kulakukan dengan iseng dan terbang ke kota hujan, sementara nova dan putri melanjutkan kuliah di kampus yang sama di padang. Dititik ini, aku hanya akrab dengan nova. Novalah salah satu jembatan kenapa aku dan putri bisa berjalan beriringan saat ini. Thank you cul~~ No worries, just like cc, I love you too! I love you both my precious! (>_<)

PS: Hey cc, saat kita mulai dekat kembali, aku tak bisa membayangkan betapa beratnya berada di posisimu. Saat itu aku merasa konyol untuk terus keras kepala dan tetap merasa iri padamu. Hingga detik ini aku merasa bahwa kamu sangat sangat hebat! Untuk bisa bangun setelah jatuh sedemikian rupa, untuk bisa mencintai setelah terluka sedemikian rupa, dan untuk mampu tersenyum sambil menyembunyikan rasa percaya diri yang tercabik-cabik, bukankah kamu sangat hebat? It was terribly hard. It always was terribly hard but somehow you always did well. Aren’t you amazing?

Sejujurnya aku enggan membiarkan kata sahabat kembali terukir dalam kisah hidupku. Bukankah aku telah bertekad untuk hidup sendiri? Bukankah aku telah bertekad untuk tak membiarkan seorangpun masuk di kehidupanku? Aku sudah lelah dengan kehidupan yang menghadiahkanku mantan-sahabat. Bukankah aku telah bersikeras bahwa tak seorangpun akan mengambil posisi sahabat dikehidupanku?

Meski begitu aku bersyukur bahwa kamu mampu menyusup masuk dalam kisah hidupku. Meksi begitu aku bersyukur bahwa orang yang menyandang gelar sahabat tersebut adalah kamu. Meski begitu aku benar-benar berterima kasih karena kamu bertahan menjadi sahabatku.

Hey cc, thank you for coming to my life! Sounds silly isn’t it? But really, thank you. Thank you for staying by my side. Thank you for coming to my life..

Salah satu hari paling berharga dalam kehidupanku?

Bukan, bukan 1 Agustus 1989.

Sweet seventeen? Bukan, sama sekali tak berkesan bagiku.

Hari pertama menjadi mahasiswa? Ah, berhubung diterima melalui jalur PMDK, tak begitu berkesan..

Pertama kalinya menjadi karyawan? Ah, itu salah satunya. Namun aku bahkan tak ingat persisnya tanggal berapa.

Lantas kapan?

9 April 199X.

Hey cc, Thank you for being born.

Happy Birthday darl.

Hey cc, tanpa terasa 9 April kembali hadir bukan? Selamat ulang tahun sweetie. Aku benar-benar ingin menghadiahkanmu sebuah cake coklat meski harus menguras dompetku. Sayangnya kamu harus tinggal di bengkulu sana. Jadi aku hanya bisa berdoa semoga anggota gengmu disana, atau pemilik hatimu tersayang mau menggantikanku untuk menghadiahkanmu sebuah kue coklat?

Apakah kamu merayakan ulang tahunmu sweetie? Aku benar-benar berharap kamu tak merayakannya dengan mentraktir orang-orang dengan tekwan favoritmu. Setidaknya pie masih lebih elegant untuk perayaan ulang tahun. Malam ini kamu dan pacar akan merayakan ulang tahun kalian bukan? Aku benar-benar ingin ikut dan mengganggu moment kalian. Ahaha #evil

Halo ratu tekwan,
Selamat berulang tahun!
Semoga makin menawan,
Semoga makin rupawan,
Lalu menikah dengan hartawan,
yang tampan dan juga dermawan.

Hei yang doyan coklat.
Semoga panjang umur yaa
Semoga senantiasa sehat.
Semoga senantiasa kuat.
Moga makin dewasa yaa.

Hei yang lagi skripsi.
Semoga tercapai impiannya!
Semoga bimbingannya lancar,
Semoga pembimbingnya baik dan pengertian,
Semoga skripsinya ga doyan ngambek,
Semoga ga banyak begadang,
Semoga cepet wisudaa

Hei yang tidurnya harus 7 jam. *buka aib
Semoga kebiasaan tidur telatnya berkurang.
Semoga bangun paginya ga kesiangan.
Semoga jam tidur siangnya ga keganggu. *facepalm.

Hei yang doyan berantem ama AC,
Semoga AC nya ga bocor lagi,
Semoga tukang servicenya ga PHP lagi,
Semoga AC nya bawel minta service melulu.
(doa ga penting)

Hey pacarnya Fajri Oktario! (bener ga namanya?)
Moga makin awet dan senantiasa langgeng yaa.
Salut ama perjalanan kisah kalian.
Didoain sampe kepelaminan.
Tahun depan jangan lupa undangannya ya?

(….dan fitri memutuskan untuk berhenti berceloteh disini sebelum cc komat kamit dan marah-marah di whatsapp.)

To the jewel of my life, happy birthday!

I Love You :*

Camera 360

Advertisements