Tags

, , , , ,

Tuhan,
tolong aku.

Sudah lama aku tak lagi berkeinginan untuk menghabiskan masa tua ku denganmu.

Sudah lama aku bersikeras bahwa aku tak ingin menjalani hidup denganmu.

Sialnya, ada bagian dari diriku yang masih merindu.

Maka lagi, berulang kali, aku kembali memimpikanmu.

Selalu disaat aku lemah begini, kamu hadir membayangi hari.

Tuhan, tolong aku.

Aku ingin lepas dari bayang-bayangnya.

Di balik jeruji jendela ku intip sang purnama, mencoba peruntunganku untuk mengaguminya. Lantas kusadari ada lirih rintik menyapa. Hujan, lagi, layaknya malam sebelumnya sembunyikan purnamaku dari sepasang mata, aku.

Detik jam kembali menggema, diselingi suara denging yang sangat memekakkan telinga. Aku benci fenomena ini, saat dimana sepi berganti riuh pikuk didalam gendang telingaku. Maka kunyalakan suara musik, mencoba menyaingi diamnya malam agar denging ini sedikit mereda. Aku lantas mengernyitkan dahi, sebuah nada terdengar dengan jernih di dalam kamar.

Nothing gonna change my love for you, you’re the only one who know how much I love you..

Ku pilih tombol acak di media player lantas menekan tombol untuk maju ke lagu selanjutnya.

How can I not love you? What do I tell my heart? When do I not want you, here in my arm?

how do I not miss you, when you are gone? Haha, ku tekan kembali tombol yang sama hanya untuk mendengar lagu dengan lirik senada. Dengan kesal mu tutup player lagu lantas membuka folder film. Ku pilih acak sebuah film lantas memutar film tersebut dengan suara keras. Ku tinggalkan komputerku lantas berjalan keluar meninggalkan kamar. Hati-hati, kubuka pintu beranda kemudian duduk sambil menghela nafas. Malam dan hujan, aku tak ubahnya seperti mereka. Senantiasa gelap, senantiasa sendu.

Hei, Aku memimpikanmu. Tadi malam kamu menggenggam erat tanganku. Cukup erat agar aku tak pernah lepas darimu, namun cukup lembut agar aku tak kesakitan oleh genggaman tanganmu. Ada sekelumit cinta menjalar dari sana, menghangatkan jiwaku. Lantas aku terbangun dan menghela nafas panjang. Aku benar tak lagi ingin bersamamu. Lantas kenapa aku masih merindukanmu? Hei, aku rindu..

Ku tutup diari dan meletakkan pena. Kubaca suratku untukmu yang takkan pernah terbaca olehmu. Aku benar-benar ingin merobek robek dan membakar diari tersebut. Aku ingin menghilangkan jejak rasa yang masih memanggil namamu meski ia hanya sebesar butiran debu. Namun berkali kali aku terhenti dan tak mampu menyalakan api untuk menghanguskannya. Diari ini bukti bahwa aku adalah manusia. Diari ini bukti bahwa aku masih mampu untuk merasakan cinta. Diari ini adalah aku. Lantas bagaimana caraku untuk membunuh diriku sendiri?

Aku ingin segera lepas darimu, namun aku harus berani membuka pintu dan membiarkan hati yang lain datang menyapa. Masalahnya aku tak cukup berani untuk membuka pintu ini, masalahnya aku tak bisa mengusir kamu yang masih bersikeras untuk hidup direlung hati. Aku harus bagaimana? Tuhan, tolong aku.

“Hei, apa kabar?”

“Uhm, lagi kerja?”

“Err.. halo?”’

“Hei kamu! Sibukkah? J “

“Hei..?”

Jemariku sibuk mengetik dan menghapus kata. Aku sangat sangat ingin mendengar suaramu, atau mungkin merasakan kehadiranmu. Aku sangat ingin menyapamu dan berkata aku rindu. Aku ingin menyalahkanmu yang tak mau setuju saat aku memintamu untuk bersikap dingin padaku. Aku ingin menyalahkan malam yang membiarkanmu menyelinap masuk ke alam bawah sadarku. Aku ingin menampar diriku yang masih tak tau malu dan memimpikanmu. Hei, kamu. Aku rindu..

Pada akhirnya aku tak mau dan keberatan untuk mengirimkan kata kata kikuk. Layaknya ribuan hari sebelumnya, aku memutuskan untuk meletakkan ponsel. Namun ada kuasa yang menggoda, mengajakku untuk lepas dari siksaan yang aku cipta. Kenapa aku harus menghentikan diri untuk berlari ketangan yang bersedia untuk menyambutku? Bukankah dia satu-satunya manusia yang dengan bahagia menerima semua kekuranganku? Tidak, ada lelaki lain yang lebih bahagia saat aku datang padanya meski berurai air mata. Ada lelaki lain yang tak lelah menyapaku tiap harinya berharap akan ada tawa dan senyuman di balik isakan sendu. Aku harus berhenti. Aku mampu berdiri sendiri!

…benarkah aku mampu? Kuatkah aku berjalan tanpa berpegang pada siapapun? Bukankah aku berkali kali melukis sebuah garis yang tak bisa mereka seberangi? Inikah wujud kuatnya diriku? Lantas kenapa jalanku selalu sepi dan sakit? Kenapa aku selalu bercucuran keringat dan air mata? Apakah semua manusia nan tegar selalu kesakitan begini? Berkali kali aku membuka mulut berusaha untuk sampaikan berat yang aku rasa, namun tenggorokanku terkunci dan aku mulai tak mampu bernafas. Bagai kehidupanku dihari hari sebelumnya, kata kata itu akhirnya tersembunyi rapat dalam kotak pandora. Aku kembali memasang topeng, berhias senyum dan suara tawa. Aku kembali memasang topeng, membuat setiap mata merasa aku tak berhak untuk jatuh dan putus asa. Aku kembali memasang topeng dan menyerah bahwa akan ada yang datang dan dengan sabar melepas semua topeng yang aku kenakan. Disaat seperti ini aku merindukanmu, kamu yang pernah melepas semua topengku. Hei, aku rindu..

­—

Bukan aku bersikeras untuk membencimu, bukan aku keras kepala tak mau kalah denganmu. Hanya saja kita tak lagi berjalan seiring dan aku lelah menunggu. Maka aku menghapusmu dari masa depanku.

Benar kamu dahulunya yang terindah bagiku, seorang teman yang berjalan bersama dan memegangku erat tiap aku terjatuh. “Qaddarallahu Lana”, begitu bukan ucapmu? Allah lah yang mempertemukan kita dan mengizinkan aku merasakan setitik manis darimu. Aku tak terbiasa dengan nikmatnya rasa manis yang mereka rasa, maka meski harus menelan pahit berkali-kali aku rela menunggu. Aku menunggu secuil rasa manis meski keberadaannya mungkin tak nyata.

Sayangnya hidup memaksaku untuk terus berlari, betapapun berat beban dipunggungku. Aku sibuk mendorong diri, tak lagi sempat untuk memandang berkeliling. Mereka sibuk bercerita tentang indahnya kicauan burung dan hijau dedaunan. Bagiku semua hanyalah pohon tinggi, hutan nan gelap dan sepi layaknya penjara. Rasanya seolah-olah ada kacamata yang menghalangiku untuk sekedar menikmati alam yang tak bersalah. Kacamata ini, yang membuatku berhenti menunggumu. Tidakkah kamu mengerti?

Karena pada akhirnya aku melihat, bahwa bagimu aku hanyalah sebuah obat. Maka kamu tak perlu peduli akan rinduku atau sakitku, karena aku selalu ada untuk rindumu atau sakitmu.

Karena pada akhirnya aku bisa mendengar, bahwa aku hanyalah wanita impian. Maka kamu tak perlu berusaha untuk menahan pergi, karena aku akan selalu jadi wanitamu meski takkan pernah kamu miliki.

Karena pada akhirnya aku menyadari, bahwa aku telah berlari terlalu jauh. Meski menjerit memanggilmu, meski penuh isak memohon padamu, kamu akan tetap berjalan santai tak peduli akan jarak yang kita punya.

Aku lelah sayang, menjadi dia yang selalu berlari dan berusaha.

Maka di detik itu aku menghapusmu dari masa depanku.

Maka di detik itu aku tak lagi bisa menanggapi rencanamu untuk menjadikan aku ibu dari anak anakmu.

Tidakkah kamu mengerti?

Kamu sibuk?”, aku menelfonmu sambil menahan isakan tangis. Aku menggit bibir sembari menahan nafas, takut kamu menyadari jerita batinku. Namun seperti biasa, diselingi tawa kamu berkata bahwa kamu tak bisa menerima telfonku saat itu. Yang aku butuhkan hanyalah beberapa detik, sekedar pertanyaan “Apa kabar?” Atau “Apakah kamu baik baik saja?”. Terlalu sibukkah kamu untuk menanyakan keadaanku ketika aku yang jarang menelfonmu memutuskan untuk menghubungimu?

Ingat saat kamu bertanya padaku apakah aku akan menikah dengan pria yang mencintaiku atau pria yang aku cinta? Mungkin disaat yang sama kamu menyadari bahwa wujud cinta yang kita punya berbeda. Disaat aku hidup dalam imajinasimu sebagai ratu dan kamulah rajanya, bagiku kamua adalah seorang anak dan akulah ibunya. Bukankah kamu sedang berusaha menyadarkanku bahwa kamu mencintaiku? Bukankah disaat aku memutuskan untuk pergi jauh kamu selalu bertanya bagaimana denganmu? Bukankah kamu selalu berusaha untuk punya masa depan yang sama denganku?

Aku mungkin hanyalah seorang idealis yang tak mengerti tentang cinta di dunia nyata. Namun aku yakin bahwa aku hanyalah obsesimu semata. Bagaimana mungkin kamu mencintaiku namun buta tentangku? Akulah gadis yang menangis terisak hingga tertidur, siapa gadis dewasa yang kamu puja? Akulah wanita yang menarik diri dan menjadikan pria sebagai pengisi kosongnya diri, lantas siapa gadis pengertian dan penyayang yang kamu puji? Dia bagian dari diriku, hanya bagian dariku. Kamu menutup mata akan sakitku. Inikah yang namanya cinta?

Lantas kenapa pria lain yang mencintaiku segera menyadari selipan duka di balik tawaku? Apakah wujud cinta kalian berbeda?

Bodohnya aku, meski lelah menunggumu, aku selalu menoleh kebelakang, berharap ada sosokmu yang berjalan menuju tempatku.

Ini bodoh, namun saat ini, tiap detik yang aku buang untuk mencari keberadaanmu adalah satu satunya saat dimana aku bisa meletakkan semua kepalsuan yang menjadi atributku. Maka meski bodoh, aku terus memimpikanmu. Meski bodoh, aku tak mampu membunuh bagian dari diriku yang terus menunggu.

hei,tak terdengarkah olehmu aku memanggilmu putus asa sambil berurai air mata?

Atau kamu, hanya akan datang saat aku tak lagi peduli padamu seperti saat saat sebelumnya..?

Kamu.. benar benar kejam..

Aku tak butuh cintamu yang dingin begini..

Namun apa yang harus aku lakukan dengan rasa rindu yang kian menyudutkanku?

Tuhan, tolong aku. Jangan biarkan dia tetap menghantuiku..

Tuhan, tolong aku..

Advertisements