Tags

,

..Ini adalah salah satu mimpi yang sangat jarang terjadi namun sangat aku suka. Bukan, bukan karena aku sangat ingin menikah lantas merasa bahagia akan kisah nyata yang terjadi dalam satu malam. Bukan, bukan karena aku rindu akan kasih seorang pria lantas merasa kebutuhanku tercukupi dalam sebuah cerita. Aku hanya teramat bersyukur karena walau hanya ilusi semata, ada rasa bahwa aku dicintai masuk menyeruak ke relung kalbu. Rasa ini bagaikan permata terindah di hidupku, bagaikan sayap baru yang hadir saat sayap yang ku punya tak lagi bisa kuajak menari. Tuhan, terima kasih untuk dongeng tadi malam

Aku menyelimuti tubuh yang menggigil dan lelah. Selalu begini, saat matahari kembali ke peraduannya, aku kembali sibuk menempeli koyo di sana sini. Layaknya robot yang berusaha memperbaiki bagiannya yang rusak, aku terpaksa tak menggerakkan kakiku yang tak mau diajak bekerja malam itu. Aku lantas memutuskan untuk tidur lebih awal, membiarkan internet di ponselku tetap menyala agar bisa bercanda dengan seorang sahabat yang senantiasa ada saat aku berpaling. Begitu aku terjaga, kusadari ponsel ini tepat diatas dadaku. Kudekap erat hingga terasa hangat. Aku pun tersenyum manja. Mungkin dia sang sahabat yang hangatkan hatiku yang kian membeku. Mungkin karena aku tertidur sambil merasa aman maka aku tak dihantui mimpi buruk malam ini. Sahabat, terima kasih.

 Eh? Rangga? Hei???

Aku menatap panik calon suamiku yang menarik tanganku dengan paksa lantas mendorongku masuk ke dalam mobilnya. Aku pun menatapnya tajam penuh protes tak suka. Namun rangga, tak seperti pria pria ku sebelumnya, tak kunjung menciut akan tatapanku penuh amarah. Ia malah tersenyum manja sambil menyanyikan derai tawa lantas mengusap kepalaku. “Kamu kesal? Aku tahu. Kamu benci aku? Terima kasih, aku juga sayang kamu”, rangga berujar dengan senyumnya. Tak ayal aku protes sambil mengernyitkan dahiku. Argh! You are so hard to handle!

Namun protesku tak berlangsung lama lantaran rangga segera menyalakan mobil dan mengemudikannya dengan cepat. Pekik kesalku berganti pekik senang diselangi tawa. Aku sangat sangat suka bermain dengan angin, terutama di jalanan sepi begini. Mendengar pekikan semangatku, kontan saja Rangga menggodaku. Tangannya meraihku lantas menarik tubuhku yang terlalu condong keluar jendela. “Hei, hati-hati”, ucapnya pelan. “Kamu tak lagi kesal padaku?”, lanjutnya. Kikuk, ku paksakan seulas senyum. Baru kusadari bahwa ia hanya sedang berusaha memperbaiki suasana hatiku yang sangat buruk hari itu. Aku berbisik lirih hampir tak terdengar, “Terima kasih Rangga, aku sayang kamu..“. “Hm.. Aku tau..”, Rangga menyahut bisikanku. Terkejut mendengar sahutannya, aku menatapnya tak percaya. Suaraku nyaris tak terdengar oleh diriku sendiri, bagaimana mungkin Rangga bisa mendengarkannya? Selanjutnya? Aku memerah malu. Ah, Rangga paling suka menatap wajahku saat aku begini, membuatku sibuk menyembunyikan wajahku yang makin merona.

“Ini.. rumah mama.. “, Aku menatap Rangga penuh tanya.

“Hm? Ah.. Bukan, mama tak meminta aku untuk mengajakmu kerumah. Kamu lihat pemandangan ke arah sana? Aku cuma ingin memperlihatkan pemandangan ini, sangat indah bukan? Aku ingat bahwa kamu lebih suka menenangkan diri di alam bebas. Tempat ini adalah tempat pertama yang terlintas di kepalaku..”, ujar Rangga, menjawab kebingunganku.

“…kamu suka?”, lanjutnya sambil mencari rona bahagia di mataku.

Aku tak mengucapkan sepatah kata, dan Rangga tersenyum lega. Tentu saja, aku tak bisa menghentikan sudut bibirku yang sibuk tersenyum. Bukankah wajah ini leih dari cukup sebagai jawaban dari pertanyaannya? Namun aku masih kikuk dihadapan mama, orang tuanya. Maka aku bergegas meminta agar kita beranjak dari sana. Awalnya rangga setuju. Tapi sebuah suara di ponselnya membuatnya pucat, kali ini ia takut aku akan kembali kesal. Oh, kalian penasaran kenapa? Karena Afika, adiknya tersayang sedang mengintip kami dari dalam jendela. Lebih buruk lagi, Afika memanggil kami dari beranda. Tentunya kami juga bisa mendengarkan derap langkah kaki penuh semangat menyambut keberadaan kami, derap langkah mama.

Rangga menatapku memelas meminta maaf. Ah.. It can’t be helped. Ku usap kepalanya sambil menariknya masuk ke rumah. Hei, mama sedang menatapku penuh cinta. I guess it’s not so bad after all?

Rangga sibuk tertawa dengan temannya, ada seorang wanita yang menatapnya lekat. Ada yang lain dalam tatapan wanita ini. Aku menunggu, sedikit cemburu.

3 orang sahabatnya ini baru saja land off beberapa menit yang lalu. Tentu saja Rangga dengan sikap baiknya menawarkan untuk mengantarkan ketiga sahabat ini. Aku sedikit kesal karena Rangga tak kunjung memperkenalkan aku pada ketiga insan ini. Berikutnya, tiba tiba aku, Rangga dan wanita itu duduk bersama di ruang tamu, si rumah mama. Semuanya menatapku senang sambil sibuk memilih baju yang akan aku kenakan di pernikahan kami nanti. Iya semuanya berbahagia kecuali sepasang mata, wanita itu.

Sang wanita yang bernama Lina, tiba-tiba bangkit dan menyerangku sambil menyudutkanku. Alih alih membantah ucapannya, aku malah mengangguk setuju. Benar aku memutuskan untuk menikah dengan Rangga bukan karena cinta, setidaknya dulu begitu. Lina menatapku tak percaya. Ia bergerak dan mendekati mama sambil berusaha untuk menurunkan nilaiku di mata beliau. Bencanakah buatku? Tidak, bukan buatku, namun untuknya.

Mama menatapku bingung, bertanya tanya siapa wanita yang sibuk merendahkanku. Aku pun memandang beliau sambil tersenyum pahit. Ku katakan bahwa benar dahulu aku tak mencintai Rangga. Adalah wajar bagiku untuk tak mencintai pria yang baru ku kenal bukan? Namun kini tak lagi begitu. Aku menatap Lina sambil mempertanyakan tingkahnya yang berusaha menggagalkan pernikahan kami. Apakah ia sedang berusaha merenggut Rangga dariku? Kini semua mata menatap Lina, menghakiminya. Sudah ku katakan ini bencana bagi Lina bukan? Ingin menjatuhkanku? Haha! Kamu 1000 tahun terlalu muda untuk berusaha menghapus keberadaanku. Kamu lihat? Bahkan Rangga mulai menatapmu tak percaya. Kamu mengkhianati persahabatan yang kalian punya.

Aku berjalan keluar, berusaha mengusir rasa bersalah karena membiarkan Lina merasa malu di depan orang-orang. Mungkin benar, sudah sepantasnya ia terkena getah dari ucapannya. Namun sebagai sesama wanita, aku merasa bersalah. Bukankah aku bisa saja meminta Rangga berbicara baik baik dengannya?

“Argh!! Jerawat”

Aku mendelik, mimpi ini benar benar random. Bagaimana aku tau bahwa aku sedang bermimpi? Karena mimpi ini berlanjut meski aku telah terbangun 4 kali. Aku menatap enggan suara yang memanggilku penuh drama.

“Kaaak, ini jerawat bukaaan?”, tanya seorang gadis kecil penuh histeris.

“Mana? Sini biar kakak liat”, balasku.

Aku memperhatikan biang keladi teriakannya. Ah, bukan jerawat.

“Bukan, tapi jangan digaruk. Nanti lukanya membekas..”, lanjutku.

Entah kenapa gadis kecil ini dengan nyaman duduk di pangkuanku. Aku pun tak mengusirnya meski merasa janggal. Rasa janggal semakin mengusik hatiku saat seorang pria berkulit gelap berjalan mendekatiku. Ia dengan lucu menirukan ucapan gadis kecil yang kini duduk di pangkuanku. Entah kenapa pria ini menatapku kemudian merangkulku gemas.

H, hei??!”, protesku kikuk. Memilih tak menghiraukan protesku, pria berkulit gelap ini melanjukan celotehan lucunya dengan si gadis kecil tanpa melepaskan lengannya dari bahuku. Aku panik tak bersuara, dia tetap sibuk memuji gadis kecil kita. Menyadari tubuhku yang semakin kaku, akhirnya pria ini menatapku lembut sambil mengusap kepalaku. Berita buruknya aku menikmati bahasa kasihnya. Lantas bagaimana dengan rangga?

“Ah? Ramai sekali diluar sini”, ucap sang pria. “Hmm.. mungkin karena pemilu? Ini kan daerah kampus.. biasa digunakan untuk pemilu”, jawabku. Aku kembali merasa aneh dengan betapa randomnya mimpi ini. Pemilu? Kampus? Ku kira aku sedang di rumah orang tua Rangga.. Ah who cares!

Pria ini tak kunjung melepaskan rangkulannya, gadis kecil ini tak kunjung beranjak dari pangkuanku. Aku terjebak dalam kenyamanan baru meski merasa berdosa pada calon suamiku. Aku tak tega mengusir gadis tak berdosa ini dari pangkuanku, aku tak cukup kuat untuk mengusir tangan yang tak mampu kugerakkan meski telah kukerahkan segenap kekuatanku. I don’t care anymore, I’ll just enjoy the ride. Aku memutuskan untuk berhenti peduli akan rasa bersalah yang menyiksaku. Di detik itu, aku terjaga.

Ahaha.

Advertisements