Tags

, , , , , , , , ,

Aku terbangun dari mimpi yang tak ku ingat lagi kisahnya. Kusadari aku masih menggenggam ponselku di tangan kiri, menunggu balasan pesan dari sahabatku, berharap aku bisa mengurangi beban di punggungnya. Sayangnya aku tertidur malam itu. Semoga aku dimaafkan untuk tertidur pulas saat dia berjuang untuk menahan air matanya.

Ku aktifkan ponsel, menyadari ada pesan baru darinya. Kubaca, kemudian tercenung. Entah kenapa, aku teringat akan satu hal, sebuah buku tua.

“Andai kamu adalah dunia, maka jiwamu disana layaknya sebuah kamar berhias permata.”

Aku layaknya membuka sebuah pintu yang penuh dengan kemewahan. Pintu dari kayu jati berhias ukiran emas. Kuputar kunci berusaha mendorongnya terbuka, hanya untuk menyadari kunci ini sudah kehilangan fungsinya. Maka kudorong lembut pintu tersebut, sedikit sesak dengan kabut yang tiba tiba memenuhi rongga hidungku. Ku picingkan mata, menunggu terbiasa akan cahaya redup di dalam sana. Lantas aku terdiam, tak bisa memutuskan untuk melompat senang akan harta karun yang aku lihat atau menyadari rasa janggal akan ornament ruangan yang tumpang tindih. Aku memutuskan untuk melangkah masuk, membiarkan rasa ingin tahu menggerakkan tubuhku.

Ruangan ini bercat merah muda, lusuh dan berdebu. Disana sini penuh dengan lemari dan kotak harta karun. Namun kontras dengan perhiasan yang jadi identitasnya, ada sebuah buku tua tergeletak di tengah kamar. Lebih tepatnya di atas sebuah meja sederhana yang sudah lapuk dimakan rayap. Disisi kanan berdiri sekuntum anggrek, mekar dan mempesona meski telah lama tak disapa matahari. Disisi kirinya ada sebuah pena, tintanya telah lama mengering. Aku terpaku akan pemandangan yang tak biasa di dalam kamar ini. Sangat kontras dengan pajangan yang berukiran dan berhias permata, sangat kontras dengan kotak perhiasan dan perabotan mahal, ada sebuah buku tua yang telah berkabut dan tak tersentuh oleh rayap. Sangat kontras dengan meja yang telah menua, ada sekuntum anggrek dalam vas bunga berisikan air jernih. Aku tak bisa menepis rasa janggal yang mendera.

Namun layaknya tempat suci nan sakral, aku berkali kali mundur dan menimbang kembali. Benarkah aku boleh menyentuh buku tersebut? Akhirnya aku memutuskan berputar mengelilingi kamar, memilih untuk mengagumi seni dan meninggalkan misteri yang mungkin tak aku mengerti. Aku kemudian melangkah keluar, menutup pintu lantas berpikir keras. Bijaksanakah aku? Benarkah keputusanku untuk keluar begitu saja? Aku berdiri berjam-jam di luar sana, tak bisa mengerti kenapa tak seorangpun menoleh atau punya ketertarikan yang sama? Kenapa tak ada sepasang mata lain yang ikut tertarik akan pintu mewah yang bahkan tak di kunci oleh pemiliknya? Ternyata mereka bukan tak tertarik, mereka hanya tak melihat pintu yang aku lihat. Menyadari bahwa aku mungkin satu dari segelintir yang bisa masuk kedalam sana, aku melangkah masuk kembali.

Aku kemudian menyadari ada sebuah album tua tergeletak diatas lantai, tertutup oleh timbunan kelereng dan batu berwarna. Ku angkat dengan hati-hati kemudian membukanya. Hei! Ada seorang gadis cantik disana. Namun sayang, senyumnya memudar. Semakin kebelakang, pakaiannya semakin mewah. Sayangnya tak begitu dengan sinar matanya. Tak seperti senyumnya yang semakin anggun, sinar bahagia di matanya kian meredup.”

Ku lirik kembali buku tua yang mengusik hatiku. Benarkah aku boleh menyentuhnya? Benarkah aku boleh membacanya? Berkali-kali aku memutuskan untuk melihat sisi lain yang lebih indah, sisi lain yang penuh kilauan, namun pada akhirnya kakiku kembali melangkah kesana, tepat di depan sebuah meja kecil sederhana. Menyerah untuk berhati-hati, aku memutuskan untuk menyentuh buku tersebut. Ku buka namun sulit untuk ku baca, tidak dengan cahaya redup begini. Maka aku kembali melangkah keluar, menempatkan buku tersebut ditempatnya lantas mencari sebuah lentera.

Ku letakkan lentera di samping buku tersebut, berhati hati, khawatir meja ini tak cukup kuat untuk menopangnya. Aku lantas menghela nafas lega, menyadari aku tak perlu mengkhawatirkan lentera tersebut. Halaman pertama mengukir senyum di bibirku. Halaman tersebut penuh dengan doodle, mungkin coretan gadis kecil yang penuh mimpi dan impian. Aku tak bisa menahan diri untuk tak membuka halaman selanjutnya, dan seterusnya. Aku menyadari doodle yang ada semakin berkurang, berganti dengan beberapa bagian kecil berbentuk lingkaran. Iya, berganti dengan tetesan air mata. Aku ragu, benarkah aku boleh membaca tulisan ini?

Aku menatap anggrek yang berdiri anggun disampingku. Puluhan pertanyaan menggangu fikiranku. Siapa yang merawatnya? Siapa yang mengganti air jernih yang ada di dalam vas tersebut? Kenapa ia bisa hidup di tempat pengap begini? Pertanyaan pertanyaan tersebut berganti dengan sebuah pertanyaan baru saat aku menyadari tak ada lagi tulisan baru di buku ini. Kenapa pemiliknya tak lagi menulis disini?

Maka jika tak ada lagi tinta untuk menulis disana, aku akan datang dengan tinta baru. Berharap bahwa kamu akan menulis meski hanya sepatah dua patah kata yang baru. Dan bila pena tersebut kembali kering dan terbuang tak mengapa. Karena aku akan selalu menunggu dengan pena yang baru.

Dan jika kamu butuh waktu untuk menulis balasan dari kata kata yang aku ukir, pun tak mengapa. Karena seperti biasa, seperti hari hari sebelumnya, aku tak akan lelah menanti balasan dari pertanyaanku: Hei, apa kabar?

Seperti biasa, kali ini aku datang dengan sebuah sapu dan pena baru. Kubersihkan debu yang mulai menebal, kemudian membuka halaman kosong yang aku tulis. Aku menunggu, berharap ada tulisan baru di bawahnya. Aku tersenyum menyadari ada sepatah kata berbunyi: baik dibawahnya. ku tulis kembali pertanyaan yang sama, hei, apa kabar? Halaman yang dulunya penuh cerita kini terlihat layaknya digunakan untuk latihan menulis, berisikan barisan kalimat pertanyaan dan jawaban yang sama.

Suatu hari aku menyadari ada yang berbeda dalam jawabnnya. Ada tanda titik dua dan tutup kurung, menggambarkan sebuah wajah yang sedang tersenyum. Maka akhirnya aku pun menulis kalimat baru. Hei, apa kabar? Aku fitri, nama kamu siapa?

Dan jika kamu hanya mampu menulis kalimat yang sama dan cerita yang sama pun tak mengapa. Aku hanya berharap bahwa tetesan air mata yang memenuhi tiap halaman mulai menghilang. Mungkin suatu hari kamu mulai mencoretnya dengan doodle yang baru? Ah, masih terlalu sulit?

Meski aku harus membaca tulisan yang sama pun tak mengapa. Karena aku akan selalu datang dengan antusias dan pena yang baru. Semoga tak lagi ada goresan amarah di tiap huruf, semoga tak lagi ada bahasa tangis di tiap kata. Aku akan membaca tulisan yang sama, hingga suatu hari kamu mampu menulisnya. Kali ini, tanpa jejak air mata.

Kamu tak perlu khawatir, bahwa ini mungkin akan jadi beban bagiku. Sejujurnya aku bahagia bahwa aku punya kamar untuk disinggahi. Meski mungkin aku bukan dia yang kamu inginkan. Meski aku bukan sepasang mata yang kamu harapkan. Setidaknya aku bisa jadi telinga yang mampu gantikan dia untuk mendengarkanmu. Jadi jangan pernah takut untuk terus menulis. Jangan pernah kecewa karena tak ada yang membacanya. Aku akan menggantikan dunia, untuk meminta maaf atas kekejamannya, untuk meminta maaf atas ketidak adilannya. Aku akan menggantikan dunia, untuk berusaha mengerti kalimatmu, untuk berusaha mengerti beratnya hatimu.

Dan kamu tak perlu takut bahwa kamu menambah beban di punggungku. Aku disini karena keegoisanku, bukan keegoisanmu. Aku berterima kasih karena kamu memberiku tempat untuk beristirahat sejenak saat aku lelah berjalan tak tentu arah.

Dan meski kamu tak bisa menggantikan dunia untuk memudahkan hidupku, tak mengapa. Karena kita dua identitas yang berbeda. Kamu mungkin bukan duniaku,namun kamu adalah rembulan di gelapnya malamku. Bukankah itu sudah lebih dari cukup?

Meski aku tak kan pernah jadi dunia dan dan mataharimu pun tak mengapa. Izinkan aku jadi bintangmu. Saat matahari tertutup oleh awan, bersabarlah di dalam kamar, tulislah gundahmu di redupnya lentera. Nanti saat malam tiba, lihatlah ke ufuk timur. Meski tak ada bulan disana, aku akan selalu berkerlip untukmu. Meski sesekali redup aku akan senantiasa berkedip nakal sambil bertanya, Hei apa kabar?

Aku kembali membuka buku sambil mendengarkan untaian keluhmu akan matahari yang tak kunjung bersinar. Aku akan kembali datang untuk mendengarkan keluhan yang sama hingga kamu tak peduli lagi akan redupnya sinar sang mentari. Maka kamu tak perlu berpura-pura tak lagi terganggu oleh tak adanya sinar sang surya. Berceritalah padaku, rasa bosan itu akan datang menggantikan sedih yang menyelimuti kalbumu. Dan kamu tak perlu khawatir akan bosannya aku. Aku adalah bintang kejora bukan? Aku tak bisa bosan berkerlip riang di galaksi sana, karena bosan tak akan ada dalam kamusku.

Aku tak menahanmu untuk menangis. Menangislah hingga tak ada lagi bisa yang kamu tangisi. Menangislah hingga kamu merasa konyol akan kegundahanmu yang terlihat lucu. Aku kan memegang tanganmu dan membawamu kesana, ketempat dimana kamu tak lagi ingat bagaimana caranya meneteskan air mata. Maka kamu tak perlu berhati-hati saat berjalan disisiku, karena aku akan menggantikan dunia dan membawamu ke tempat yang penuh tawa.

Menangislah. Menangislah layaknya anak kecil. Karena dia perlu tumbuh dewasa.

Berteriaklah. Berteriaklah layaknya anak kecil. Karena gadis kecil itu perlu tumbuh dewasa.

Dan semoga mataharimu segera bersinar, hingga kamu tak lagi perlu menunggu malam untuk lihat cahayaku. Karena dimataku, melebihi matahari mana pun, kamu berhak hidup penuh cahaya”

Tell me stories, because it’s okay.

Love,

Fitri.

 

 

Advertisements