Tags

, ,

Aku akan kembali membuatmu kesal, dengan jawaban yang sekenanya. Aku akan kembali membuatmu kesal dengan meresponmu seadanya. Seperti hari hari sebelumnya aku akan dengan ringan berkata “iya,aku tau” saat kamu berucap betapa kamu benar peduli padaku. Seperti masa masa yang lalu aku akan bertingkah seolah kamu berceloteh asal saat kamu menyediakan waktu untuk membiarkan aku mengerti betapa kamu benar khawatir dan tak mau kehilangan aku. Kamu akan kembali kesal dan mempertanyakan kenapa aku seolah tak percaya setiap kamu berujar tentang cinta. Kamu akan kembali kesal dan bertanya harus bagaimana agar aku mempercayai hatimu yang senantiasa merindu. Lalu aku akan tetap seperti aku yang dulu, dengan dingin tak peduli berkata bahwa aku mempercayaimu.

Kita kemudian berpaling lantas sibuk dengan dunia masing masing tanpa titik temu. Kenapa jembatan itu masih ada? Fikiran yang begitu berbeda haruskah ada jembatan disana? Lalu kita akan berdebat di kehidupan masing masing saling menahan dan mendorong diri untuk menggunakan jembatan yang ada? Haruskah jembatan ini ada?

Aku akan senantiasa menjadi penipu. Aku akan hidup dengan tutur kata lembutku nan begitu merdu namun teramat dingin hingga membuatmu pilu. Aku akan hidup dengan senyumku nan anggun dan membuatmu merindu lantas menghilang dan menyisakan rongga kosong dicelah sana. Bukankah ini semua sudah terlihat jelas olehmu? Kita sama sama ingat saat cinta itu begitu kikuk dan kita dengan tergopoh gopoh berusaha berjalan bersama. Kita masih mengingat dengan jelas betapa aku sibuk memandang kosong keluar jendela kelas lantas tertawa manja saat ada sepasang mata yang menatapnya.

Tidakkah kamu ingat akan hujan nan dingin dan aku menelfonmu gemetaran? Bukankah begitu sering aku memeluk bantal ketakutan saat listrik tak kunjung menyala dimalam hari dan memaksamu berbicara padaku hingga terlelap? Ingatkah saat aku menangis saat kamu dengan tulus berulang mengingatkan bahwa aku dicintai? Kita sama sama mengerti tentang keanehanku bukan? Bukankah keanehan ini yang memikatmu untuk tak bisa menolakku saat aku kembali merusak duniamu yang begitu damai? ..karena aku membuatmu merasa kamu melindungiku bukan?

..aku akan senantiasa lari dan menepis bahasa cintamu. Aku akan kembali pergi tanpa berpaling saat cinta itu mulai terlihat nyata. Dan meski kamu menahanku lantas memaksaku untuk duduk dan mendengarkan, aku akan gelisah ingin lari dan menutup telinga. Hingga bila tiba saatnya aku mengerti bahwa aku dicintai, aku akan menangis sesenggukan berteriak ketakutan. Karena aku takut. Aku bahagia bahwa aku dicintai, namun aku teramat sangat takut. Menurutmu aku berlari selama ini karena ingin terlihat menggemaskan? Aku lari karena aku takut, padamu, dan pada hatimu. Aku ingin memegangnya, namun berkali kali terlihat nyata olehku betapa cinta yang aku genggam lenyap seketika. Aku tak berani dan teramat takut.

Dan aku akan senantiasa mengingatkanmu akan jahatnya aku, bahwa aku akan dengan mudah berpaling dan lari meninggalkanmu sendiri. Lantas kenapa kamu senantiasa memudahkanku saat aku datang dan pergi? Kenapa kalian begitu? Karena aku selalu hidup layaknya kupu kupu? Takutkah kalian jika sayapku patah? Takutkah kalian jika aku tak lagi singgah? Takutkah kalian jika aku mulai lelah? Karena aku sikupu-kupu maka kalian akan senantiasa mengalah? Namun kupu-kupu ini begitu penat dan ingin pulang..

Haruskah aku pulang? Kemanakah aku harus pulang? Karena kalian begitu sabar aku tak bisa memutuskan untuk pulang. Karena kalian begitu mengerti, aku tak bisa terus egois begini. Meski begitu aku ingin pulang, kemanakah aku harus pulang..?

Advertisements