“Duduk.”

Beliau menahanku untuk melangkah menuju kekamar. Tanpa banyak bicara aku patuh dan berpura pura biasa saja. Ada apa lagi sekarang? Apakah aku pulang terlalu malam (sore)? Aku melirik jam dinding yang sengaja dipercepat hampir 15 menit. Ah, bukan. Bahkan jam ini saja belum mununjukkan pukul lima sore. Lantas kenapa? Aku ingat persis bahwa aku membersihkan rumah dan bahkan mengepel lantai tadi pagi. Aku juga menahan rasa tak nyaman pada telapak tanga nku yang kulitnya semakin mengelupas karena menggunakan lap kotor yang berdebu. Pun kalau soal piring kotor yang mungkin mulai menumpuk, aku terbiasa berberes sore di pukul setengah 6. Apa aku melakukan kesalahan lain?

Aku menahan keringat dingin, menahan sebisa mungkin agar rasa takut yang mulai menggerogoti diri tak tampak dipermukaan. “Tia”, beliau memanggil namaku kembali. Aku menahan nafas, menatap wajahnya lantas memaksakan seulas senyum. “Iya ma?”, jawabku bergetar.

Seperti biasa, aku hanya bisa ikut dengan “permintaan” mama saat beliau menyuruhku berobat tradisional. Meski ini trip yang kedua, pengobatan tradisional ini sama sekali tak masuk akal. Si bapak sakti cuma mengetuk-ngetuk kepala dan perutku, berkomat kamit tak jelas sambil meliuk liukkan badannya bak seorang penari. Sesekali dia berhenti sambil bertanya, “bagaimana nak? Terasa lebih baik?”. Kali pertama, aku sangat bingung. Apanya? Mungkin suasana hatiku terasa lebih baik melihat tariannya yang lucu didepanku. Melihat aku hanya menggeleng bingung, beliau kembali mengetuk-ngetukku disana sini.

Belajar dari pertemuan pertama, aku segera mengangguk saat ditanya apakah aku sudah merasa lebih baik. Maksudku, aku tak suka diketuk sana sini berkali kali. Sakit! Kulihat papa yang dengan berharap, bertanya antusias apakah tumorku mulai mengecil. Aku bingung harus menjawab bagaimana. Tumor ini bersarang disana selama hampir 6 tahun, mana mungkin hilang karena diketuk sekali saja. Ah, papa..

“Pulang aja nih pa? Ga berteduh dulu?”, tanyaku khawatir. Papa mengangguk mantap. Tampaknya berteduh selama 2 jam dibawah jembatan sebelum berangkat kesini sudah cukup membuat beliau jera. Aku menarik mantel hujan yang terselip didepan motor dan membantu beliau mengenakannya. “Tia ngangkot aja, mau ke pasar dulu pa. Papa hati hati ya. Jangan ngebut, jalanan licin”. Papa lagi lagi mengangguk dan menyalakan motornya. Didetik beliau menghilang dari pandangan, aku bergegas mencari angkot kepasar. Bagaimana iniiii, dzuhur hampir habiiiis.

Jam setengah lima. Aku tersenyum lega terutama karena foundation yang harus aku beli meski ditengah hujan begini sudah aku kantongi. Aku memutuskan untuk jalan kearah bioskop tua yang lama telah ditinggal oleh rakyat. “Bioskop Eri?”, aku membaca tulisan tersebut, sedikit bingung. Seingatku hanya ini satu satunya bioskop yang ada di kota. Lantas dimana “Bioskop Sofia” yang harus aku datangi lusa nanti? Ergh, perutku mulai keroncongan. Tiba tiba saja aku teringat siomay di stasiun yang pernah aku datangi dengan sahabatku. Tanpa pikir panjang aku melangkah kesana. Yeay, finally siomay!

“Kakak lagi dimana? Lama banget pulangnya..” ucap adikku yang kemudian kembali menelfonku selang 10 menit. Aku sangat kesal dengan telfon yang berdering hanya karena mereka ingin menelfon. Ku jawab saja aku sedang diperjalanan dan mematikan telfon tersebut. Argh, kenapa macet sih??

“Mama cuma bakal nanya sekali ini. Kamu udah umur berapa? Udah ada calon? Mama punya calon, kalo kamu mau, nikahnya sebelum mama naik haji bulan depan”

“Mama ga perlu punya menantu kaya atau bergengsi, yang penting sholat dan rajin”

“Mama cuma mikirin yang terbaik buat kamu tia. Kalo mama papa meninggal sewaktu haji nanti kamu gimana? Kamu bisa sendirian ngurus adek adek?”

Aku menggertakkan gigi sambil menahan rasa sakit yang kian menusuk di ulu hati. Semakin beliau berucap, semakin sakit rasa nyeri itu mendera. Rasa sedih yang baru saja berhasil ku kubur kembali menguasai tubuh. Lantas setetes mengalir. Aku panik dan bergegas memalingkan wajah. Di detik itu beliau terdengar sedih saat bertanya apakah aku merasa terpaksa. Aku hanya bisa menjawab “gapapa ma, kalau mama suka, gapapa”. Aku kemudian lari kekamar dengan alasan ingin segera sholat ashar. Beruntungnya beliau mengizinkan aku beranjak dari sana.

Bagai dikejar setan, setengah berlari aku menaiki tangga. Tangisanku tiba tiba meledak begitu aku mengunci pintu kamar. Allah, Allah, obati hatiku ya Allah. Bahkan hingga detik terakhir yang kudengar hanyalah ultimatum untuk mengambil kesempatan terakhirku. Bagaimana aku bisa menolaknya? Allah, Allah, apakah Engkau meninggalkanku? Aku hanya bisa menangis terisak. Setelah salam, aku terkulai lemas diatas sajadah, menangis.

Tangisanku bahkan tak terhenti saat sholat magrib. Setelah salam, seperti sebelumnya, aku kembali lemas bersandar diatas sajadah. Hingga akhirnya azan Isya menggema, aku kembali sholat dan tangisanku akhirnya mereda. Dadaku masih sesak, serasa sedang tenggelam dan meronta ronta ke permukaan. Iya, persis seperti mimpiku dua malam yang lalu, mimpi tenggelam di tengah lautan. Mataku mulai terasa perih akibat menangis tak henti selama dua jam. Aku menatap cermin dan jijik dengan wajah yang aku lihat. Segera ku kenakan eye shadow dan eye liner agar bengkak di kedua mataku sedikit tersamarkan. Ku kenakan kacamata sambil tersenyum lega. “Oke tia, pastiin mereka ga ngeliat kamu dari dekat”, aku berbisik menginstruksi diri. Bismillah, aku melangkah keluar sambil menatap obat untukku diatas meja. “Mama manggil Tia?

Selama aku di rumah, aku sering bermimpi sedang ditengah lautan yang sangat dalam. Di tiap tiap mimpi, aku ketakutan hingga terbangun sambil berkeringat dingin. Salah satu mimpi absurd yang tak bisa aku jadikan olok-olokan konyol adalah mimpi mengendarai seekor paus. Lebih tepatnya, mengendarai tengkorak hidup seekor paus. Aku bisa melihat tulang tulang itu meliuk lincah dan aku berdiri gemetar diatasnya. Aku takut. Aku takut akan laut biru yang sangat dalam di bawah telapak kakiku. Aku takut dengan air yang menyapa telapak kakiku. Aku takut bergerak dan kehilangan keseimbangan lantas tenggelam di samudra sana. Maka aku hanya bisa berdiri kaku layaknya patung, berkeringat dingin hingga aku terbangun.

Kemudian aku bermimpi, bahwa kamarku yang bersebelahan dengan laut, mendadak kehilangan dindingnya. Lagi lagi yang kulihat bukanlah tepian laut, namun samudra yang biru dan dalam. Aku bahkan bisa merasakan angin ganas yang menarikku untuk terjun ke dalam sana. Karena teramat takut, aku memutuskan untuk mengunci pintu dan tidur di lorong kamar. Aku kembali terbangun ketakutan.

Maka kali ini aku sangat-sangat khawatir, saat aku bermimpi sedang berjuang menggapai permukaan. Aku terlempar ketengah lautan dan sedang tenggelam. Nafasku sesak dan tubuhku mulai mati rasa. Ya tuhan.. kenapa aku bisa disini?

Aku meronta ronta dan bernafas lega saat aku akhirnya sampai di permukaan. Namun selang dua detik, aku melihat jelas sebuah ombak tinggi dan menakutkan akan segera menghantamku. Allah, kenapa? Ku tutup mata pasrah membiarkan ombak kembali membenamkanku. Aku segera terbangun kehabisan nafas dan sedikit menangis. Allah, kenapa aku mimpi begini lagi?

Fin.

Advertisements