Tags

, , ,

“Pola fikirnya rumit, terlalu rumit”

– Psikologis.

Aku tau betapa susahnya untuk mendengarkan. Aku tau betapa susahnya untuk diam dan menahan diri untuk tak membiarkan ego berucap kata. Maka dari itu aku sedikit berharap, bahwa jika sepasang telinga disana tak siap untuk mendengarkanku, berhentilah bertanya. Ini sulit bagiku. Tak pernah mudah membuka kembali lembaran yang telah penuh coretan. Berhentilah bertanya, karena mendengarkanku teramat berat.

Persis karena aku berfikir terlalu jauh, maka aku terlihat bak si pesimis yang tak berani melangkah. Cobalah kenakan sepatuku, lantas berlari seperti aku. Masih mampukah kamu mengenakan sepatu yang sama? Maka jika kamu tak mampu melakukannya, tak mampu mengenakan sepasang sepatu ini beberapa detik dan benar benar menjadi aku, berhentilah bertanya. Berat bagiku berucap kata yang berkali kali ku telan. Berat bagiku mengingat memori yang berkali kali ku hapus. Maka jika peduli itu nyata adanya, berhentilah bertanya.

Karena aku telah medengarkan seumur hidupku, mendengarkan terlalu banyak, sulit bagiku untuk menutup telinga. Karena aku telah melihat lebih lama dalam hidupku, menatap terlalu lekat, sulit bagiku menghilangkan pemandangan yang pernah ada. Kita tak sama, tak akan pernah sama. Meski mungkin pernah berjalan dan merasakan sakit yang sama, kita tak tau perihnya luka masing-masing.

Bukankah aku tak memandang rendah sakitmu? Aku percaya bahwa rasa sakit itu nyata, bahwa meski terlihat penuh drama, air mata itu nyata. Aku tak mengenakan sepatuku karena cinta akan hidup sebagai korban. Bukan, bukan begitu. Nyatanya aku berkali kali berteriak bahwa aku baik baik saja, memaksa untuk lupa. Karena suara itu terlalu bising, melebihi dari suaraku sendiri, maka aku harus berusaha lebih keras untuk menutup telinga. Karena memori itu tak kunjung hilang dan menghantuiku dalam tiap mimpi, maka tangisanku pun tak mau mereda.

Aku bukannya menghitung salah. Siapalah aku, mahluknya yang penuh dosa. Namun aku kewalahan karena sakitnya tak kunjung hilang. Tanpa perlu kuingat, pemandangan itu tak mau beranjak pergi. Tanpa perlu kupanggil, suara itu berteriak tanpa henti. Aku layaknya berdiri di dalam ruangan sempit berdindingkan ratusan layar kecil. Tiap layar memutar gambar yang berbeda dengan suara maksimal. Tiap layar berlomba mengingatkanku tanpa istirahat. Aku tak bisa lari darinya. Aku tak bisa berpura pura bahwa aku tak lagi disana. Maka berhentilah bertanya, karena aku pun sakit kepala berusaha menghentikan ini semua.

Aku tau ini wujud prihatin dan peduli, namun ada saatnya ini semua hanya akan meracuniku. Jika kamu tak punya keberanian dan rasa percaya diri bahwa kamu mampu mengenakan sepatuku, menahan diri untuk bersikap bijak dan mencoba hidup sebagai aku, maka aku tak akan keberatan mengucapkan semuanya. Because unlike you, I have thousand words that better left unspoken. Unlike you, I have so many things that I left unknown. Didn’t protect own self because being misunderstood would benefit other better.So, If you rush saying how painful to be you and how easily to solve me, isn’t that the same as saying that my pain is unreal?

Advertisements