Tags

, , , , , ,

Aku baru saja berbicara dengan salah satu manusia favoritku saat aku tiba tiba teringat cerita lugu di masa lalu. Jika ku ingat kini betapa kikuk dan lucunya kita di remaja dulu, aku hanya bisa tertawa menahan rasa geli yang menggelitik. Ah? Aku baru saja bercerita tentang bagaimana kamu dan aku menjadi kita, cerita tentang cinta saat dunia kita maih bersih dari ekspektasi dan aturan. Masih ingatkah?

Aku tak ingat bagaimana persisnya kita mulai punya rahasia kecil dalam sebuah buku dan tulisan kekanakan. Aku hanya ingat betapa aku kagum akan kedewasaan yang tersembunyi dibalik nakalnya kamu. Meski kita tak pernah berpikir tentang lawan jenis dan tentang cinta, ada rasa peduli yang tulus di tiap lembaran, di tiap kata. Aku mengagumi sosok yang kukira mampu merangkulku, menggantikan sosok pria bernama “ayah”.

Walaupun begitu, meski kamu pernah bercerita bahwa kamu ingin mengikatku sebelumnya dengan sebuah label bernama kekasih, aku tak sekalipun pernah mempertimbangkanmu sebagai kekasihku. Aku? Kekasih? Cinta? Ahahaha! Mungkin dunia sudah kiamat jika saat itu aku punya walau sedikit saja ketertarikan untuk hidup di dunia bernama romansa. Tak pernah sekalipun aku berfikir akan menjadi kekasihmu atau membiarkan mimpi itu berlanjut dimana kamu sibuk melukis sebuah foto berjudul keluarga impian. Iya, keluarga impian. Dialah kamu dan aku, berdiri sambil memeluk 3 orang anak kita. Ironis mengingat lukisan inilah alasan kenapa kita tak lagi kita. Ah, aku memang tak normal. Mari menganggap ini adalah hal biasa bagiku untuk lari dari pria yang bermimpi menjadikan aku istrinya. Ahaha.

Lebih tepatnya, aku punya rasa takut yang tak wajar didetik aku memandang seorang pria sebagai pria. Aku tumbuh dengan tak sehat sehingga aku memutuskan untuk tak lagi peduli soal gender. Maka hingga detik itu, bagiku kamu hanyalah teman wanita berambut pendek. Sama sekali tak ada bedanya bagiku bahwa kamu mungkin punya ketertarikan lain padaku. Aku tak berniat sama sekali untuk melihatmu sebagai seorang pria. Setidaknya tidak hingga moment itu, saat dimana kamu tiba tiba terlihat begitu besar di mataku.

Waktu itu, pagi begitu segar. Kita sibuk bercanda di kelas sembari berteriak menunggu guru yang tak kunjung datang. Kita tak lagi duduk di kursi masing masing, mengikuti anak anak yang juga pindah kesana kemari sibuk bermain sambil bersorak karena tak ada kegiatan belajar di pagi itu. Aku mengambil buku tulismu, mencoretnya sambil dengan egois memutuskan bahwa aku sedang menghias bukumu agar “lebih indah”. Well, aku lupa diri dan.. yah.. bukumu jadi korban kediktatoran jemari dan penaku. Kamu lantas menghentikanku yang mulai dengan semena mena memilih untuk melukis halaman selanjutnya. Seperti biasa, aku menutup telinga dan aku tak ingat bagaimana persisnya, aku bercanda melebihi batas hingga kamu mulai kesal dan marah.

Selama ini, nyaris 3 tahun kamu telah dengan suka rela menjadi korban keisenganku yang tak berujung. Tapi tak pernah sekalipun kamu marah padaku selain ceramah kecil yang tak bertahan lama. Berbeda dengan pagi itu. Pagi itu kamu hanya diam, dengan mata yang merah dan tajam memandang kedepan. Melihatmu marah begitu, aku mulai takut dan merasa bersalah. Sayangnya sosok asing ini bahkan menghilangkan nyaliku untuk berkata maaf. Akhirnya aku memutuskan untuk menulis kembali di buku yang sama:

Maaf.. aku kelewatan bercandanya. Maafin aku ya? Kamu jangan marah lagi.. Aku takut liat kamu marah begitu..

Kemudian aku mendorong buku tersebut kearahmu sembari menunduk dan sedikit sendu. Kamu menatapku sekejap sebelum memutuskan untuk menarik buku tersebut dan mencari maksudku. Lagi, aku mengintip sambil berharap harap bahwa kamu tak akan begitu memarahiku. Namun berbeda dengan dugaanku, di detik kamu membaca kalimat tersebut, wajah dan tatapanmu melembut sedemikian rupa. Kamu berpaling kearahku, mengulas sebuah senyum yang sangat manis sambil berujar dengan suara rendah: “Iya.. aku ga marah kok..

Aku tertegun dengan pemandangan didetik tersebut. Tiba tiba aku sadar bahwa kamu seorang pria, bahwa kamu peduli padaku dan bahwa aku takut kepedulian itu hilang. Ini mungkin bukan cinta, hanya kekaguman biasa. Siapa sangka, kekaguman ini adalah moment pertama dimana aku menganggap seorang teman lelaki sebagai seorang lelaki. Moment pertama.

Advertisements