Tags

, ,

Mungkin aku terlalu besar kepala hingga tak lagi ingat manisnya gula. Mungkin aku terlalu arogan dengan rasa hingga aku tak ingat lagi untuk berlogika. Aku berusaha, semampu dan sebisaku, untuk mengindahkan rasa perih yang menusuk saat mendengar coletahan ceria beliau diseberang sana. Aku berusaha untuk berpura pura bahwa sakitku tak pernah ada, menelan rasa pahit yang tak kunjung hilang dari tenggorokan dan makin menggema. Akankah suatu hari pahit ini hilang?

Ada rasa asing saat beliau memegang tanganku. Sebuah rasa takut dan tak nyaman menjalar dari sana. Aku takut untuk mengenal sensasi tangan dan kepedulian lagi. Sudah cukup, aku tak akan bisa bangkit jika aku dipukul jatuh seperti dua tahun yang lalu. Tubuhku menegang. Meski begitu kuingat ingat kehidupan yang dahulu dimana aku mengubur dalam dalam setiap butiran sakit dan pahit yang ada.

Bagaimana dahulu? Bagaimana aku membohongi orang orang diwaktu aku kecil dulu? Bagaimana aku menutupi sinar yang ada di mataku dan memalsukan setiap tawa dan senyum? Biarlah aku dianggap munafik dengan kepura puraan akan sebuah keceriaan palsu. Bahagia? Aku bahkan tak tau apa itu bahagia. Biarlah jika aku tak akan pernah mengenalnya. Karena arti kehadiranku bukan untuk berbahagia, hanya untuk jadi perisai dan pemancing tawa. Karena arti kehadiranku bukan untuk tumbuh segar dan berbunga, melainkan tuk jadi rumput yang tumbuh untuk dimakan ternak. Rumput tak perlu berbahagia, rumput tak perlu punya rasa.

Terdengar sebuah celoteh riang di belahan bumi sana, di tanah suci tujuan umat muslim seluruh dunia. Dialah insan terkasih terpenting dalam hidupku, yang setelah sebulan, terdengar lebih sehat dari sebelumnya. Beliau berceloteh riang dan aku berusaha menanggapinya seperti dulu – saat kejadian itu tak pernah ada. Aku berhati hati agar tak berbekas rasa pahit yang berkali kali ku telan. Aku ingat akan rasa pahit ini, aku ingat akan rasa sesak ini. Tepatnya inilah yang aku rasa saat aku berusia 12 tahun dulu, saat kita akhirnya berkumpul kembali. Ada rasa asing, takut dan tak terima, lantas ada rasa segan dan khawatir. Aku tau bahwa bersama insan terkasih seharusnya adalah syarat untuk berbahagia, namun aku tak yakin rasa sesak ini merupakan bahagia yang aku cari.

Aku tak mampu menjelaskannya. Lebih tepatnya ada rasa putus asa dan tak lagi percaya. Salahkah aku? Bertahun tahun, ribuan hari, aku berusaha membodohi diri dengan berkata apa yang kubayangkan itu tak nyata. Hanya sehari saja, hanya beberapa detik saja, dan hanya beberapa patah kata membenarkan mimpi burukku. Aku tak bisa menjelaskan sakit yang aku rasa. Bukan aku dendam, bukan aku marah, rasa ini melimpah ruah hingga tak bisa aku bendung. Aku berdoa, tuhan sembunyikan semua ini, sembunyikan jiwa yang buruk rupa ini. Tuhan sembunyikan luka ini, biarlah aku jadi pendosa dari pada ia terluka menyadari dosanya.

Pahit.

Pahit.

Pahit.

Berkali kali pahit ini aku telan.

Sakit.

Sakit.

Sakit.

Berkali kali rasa sakit ini aku hilangkan.

Setiap tetes rasa pahit, kusimpan rapat dalam sebuah botol. Namun siapa sangka botol yang ku punya tak lagi mampu menampungnya. Pahit itu melimpah ruah menggerogoti tubuhku. Pahit itu membuatku mual hingga tak lagi mampu menelan makanan seperti dulu. Pahit itu menghilangkan kehangatan hingga aku berkali kali memijat tangan dan kaki yang mendingin tanpa kompromi. Pahit itu menghilangkan keseimbangan tubuhku hingga aku harus berpegangan pada dinding. Pahit. Pahit. Pahit. Jangan tanya kenapa aku begitu cinta mendera diri. Aku pun tak sedemikian cinta akan siksa. Namun pahit ini bukan kuasaku. Hanya yang maha Pencipta lah yang tau rasa ngeri yang membebani pundakku. Pahit. Pahit. Pahit. Tuhan, bantulah hamba.

Apakah malam selalu sepanjang ini? Kemanakah surya saat aku tak lagi sanggup berhadapan dengan mimpi? Kenapa jarum jam tak lagi bergerak? Apakah dunia berhenti berputar? Sakit. Sakit. Sakit. Aku ingin bangun dan menyiram kepalaku, mendinginkan panas yang kian membuatku tak waras. Aku ingin menyiram telingaku, membunuh mahluk bising yang tak berhenti mendenging. Sakit. Sakit. Sakit. Kenapa pagi tak kunjung datang? Aku tak mau tidur hanya untuk kembali dibangunkan oleh mimpi buruk. Aku tak mau lagi tertidur hanya untuk terbangun, basah oleh keringat dingin dan rasa takut. Kenapa tubuhku tak bersedia untuk bergerak? Aku tak mau tidur. Sakit. Sakit. Sakit.

Aku kembali terbangun seperti biasa, dengan tubuh yang begitu berat, dengan rasa sesak yang semakin sakit. Ada rasa ngilu menusuk ulu hati, ada suara denging yang sangat bising memekakkan telinga. Kepalaku sakit, kerongkonganku begitu kering dan teramat pahit. Aku menunggu beberapa menit hingga kembali terbiasa dengan bencana ini, lantas memutuskan untuk menatap cermin. Ku lukis satu dua senyum dan tawa, sebagai latihan untuk berkata bahwa “aku baik baik saja”.

 

Advertisements