Tags

, ,

“Apa ga pahit fit tehnya? Pekat banget, ampe item gitu..”

Aku memandang ke gelas yang dipersoalkan papa, berbalik ke beliau sambil menggelengkan kepala lantas berujar:

Engga pa, rasanya sama aja kayak air mineral..

Istilah kerennya bitterness-threshold. Sewajarnya anak kecil punya kecendrungan untuk memilih yang serba manis. Dari makanan pokok hingga cemilan, seandainya bisa memilih, mereka lebih suka mengisi lambungnya dengan puluhan coklat dibanding dengan sepiring nasi. Aku pun dahulunya begitu. Meski aku memang tak begitu suka mengulum permen, aku sangat sangat senang menikmati penganan lokal yang rasanya sangat manis. Aku juga senang sekali berlari menuju bapak bapak penjual es sambil tak sabar menunggu eskrim strawberry-ku siap disantap.

Minuman pun demikian. Walau bukan penggemar susu, aku senang sekali memulai hari dengan segelas Milo. Aku juga senang menikmati teh telur – minuman khas sumatera barat – yang sedang papa minum dan membiarkan beliau menghembus minuman tersebut sebelum membiarkan aku mencobanya. Aku juga ingat betapa aku tak sabar menunggu ulang tahunku hanya agar bisa menikmati setangkai eskrim mahal yang rasanya luar biasa enak.

Dahulu, semuanya begitu nikmat. Sweetness is one of the beauty of life.

But it was taken away from me

 

Perlahan aku mulai tak mampu mencicipi gula dan rasa manis dibaliknya. Mungkin terdengar lucu menimbang aku terlihat gemuk dengan lemak yang bersarang disana sini, namun aku sudah lama berhenti menikmati rasa manis. Alih-alih, aku mulai terbiasa dengan rasa pahit. Kopi hitam? Teh pekat? Atau minuman lain tanpa gula? Aku akan meminumnya tanpa masalah. Namun saat disodorkan jus campur sari yang rasanya ampun-ampunan manis. Aku tak bisa tak mengernyitkan dahi sambil bertanya: “harus habis?“.

 

Dan layaknya singkron dengan lidah, hidup pun ikut terbiasa dengan pahit. Apa yang dulu tak bisa aku cerna atau aku terima, kini adalah hal yang biasa. Aku lupa rasanya saat aku begitu menyebalkan lantaran terbiasa bergelimang gula. Aku mulai alergi dengan setitik madu yang terasa bagai noda. Aku berusaha untuk biasa, namun didalam sana ada rasa takut. Aku takut akan manis yang begitu siksa bagaikan racun..

Advertisements